RADAR JOGJA - Sebanyak 32 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, kembali mendapatkan penanganan medis setelah mengalami keluhan kesehatan yang menyerupai gejala dugaan keracunan makanan. Para santri tersebut menjalani perawatan di RSI Siti Hajar Sidoarjo pada Selasa (8/9/2026) sore.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya ratusan santri di lingkungan pesantren yang sama mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Para santri yang kembali mendapatkan perawatan dilaporkan mengalami sejumlah keluhan, di antaranya mual, muntah, diare, serta gangguan pada kondisi tubuh. Gejala tersebut memiliki kemiripan dengan keluhan yang dialami para santri dalam kejadian sebelumnya.
Kasus dugaan keracunan di Pondok Pesantren Manbaul Hikam pertama kali mencuat setelah banyak santri mengalami gangguan kesehatan usai menyantap makanan MBG pada awal September. Jumlah warga pesantren yang terdampak kemudian terus bertambah hingga mencapai sekitar 730 orang. Sebagian besar korban telah mendapatkan perawatan dan diperbolehkan kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Munculnya kembali keluhan kesehatan pada sejumlah santri membuat penanganan medis kembali dilakukan. Namun, kesamaan gejala belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan bahwa kondisi 32 santri tersebut disebabkan oleh makanan MBG yang sebelumnya dikonsumsi.
Baca Juga: Pemkab Kebumen Keluarkan Rp 208,5 Juta untuk Bonus Atlet Popda dan Peparda
Sebelumnya, kasus serupa di Sidoarjo juga menjadi salah satu kejadian yang mendapat perhatian dalam rangkaian dugaan gangguan kesehatan terkait program MBG di sejumlah daerah. Selain Sidoarjo, kasus dengan gejala seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut dilaporkan terjadi di beberapa wilayah lain di Indonesia.
Dalam kasus Sidoarjo, sebagian besar korban dari kejadian sebelumnya telah dinyatakan membaik. Sementara itu, proses pemeriksaan dan penelusuran terhadap penyebab munculnya gangguan kesehatan masih menjadi bagian penting dalam penanganan kasus tersebut.
Kembalinya puluhan santri ke rumah sakit menunjukkan bahwa kondisi kesehatan para korban masih perlu mendapat perhatian. Pemantauan terhadap santri yang telah pulih juga menjadi penting untuk mengantisipasi munculnya kembali gejala serupa.
Hingga kini, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami 32 santri tersebut belum dapat dipastikan. Karena itu, informasi mengenai dugaan keterkaitan dengan MBG perlu disampaikan secara hati-hati sampai terdapat hasil pemeriksaan medis maupun investigasi yang dapat memastikan penyebabnya.
Baca Juga: Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja Fajar Kurniawan Dukung Jadikan Sungai Alternatif Wisata Baru
Kasus ini sekaligus kembali menyoroti pentingnya pengawasan terhadap keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG, terutama pada proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat.
Masyarakat diimbau tidak terburu-buru menarik kesimpulan ataupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Perkembangan kondisi para santri dan hasil penelusuran penyebab kejadian diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai kondisi yang sebenarnya terjadi.
Sumber : Instagram, Twitter
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber