JAKARTA – Aktivitas vulkanik kembali membawa dampak ke dunia penerbangan. Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, dinyatakan tutup sementara setelah abu vulkanik Krakatau terdeteksi menjadi faktor yang memengaruhi keselamatan operasional penerbangan.
Informasi tersebut tercantum dalam Notice to Airmen (NOTAM) yang diterbitkan AirNav Indonesia melalui Unit Pelayanan Informasi Aeronautika. Dalam dokumen tersebut, penutupan bandara tercatat melalui NOTAM A3346/26 NOTAMR A3344/26.
NOTAM tersebut secara spesifik mencantumkan lokasi WIII – Jakarta/Soekarno-Hatta. Status yang diberikan adalah Aerodrome – Closed, atau bandar udara ditutup untuk sementara waktu.
Penutupan itu bukan keputusan tanpa alasan. Pada bagian informasi NOTAM disebutkan bahwa bandar udara ditutup karena Krakatau volcanic ash, atau abu vulkanik Krakatau. Kondisi seperti ini menjadi perhatian serius dalam penerbangan karena keberadaan abu vulkanik dapat mengganggu aspek keselamatan penerbangan.
Dalam NOTAM, waktu mulai penutupan tercatat pada 6 September 2026 pukul 01.36 UTC. Jika dikonversikan ke waktu Indonesia bagian barat, waktunya menjadi 08.36 WIB. Sementara waktu berakhir tercatat pada 06.30 UTC dan diberi keterangan EST, yang berarti waktu tersebut masih berupa estimasi.
Baca Juga: Mengenal Kepala BPS Kota Jogja Joko Prayitno, Awalnya Cari Rumput, Berhasil Menembus Dunia Statistik
Dengan demikian, informasi penutupan tersebut perlu menjadi perhatian penumpang yang memiliki jadwal penerbangan dari maupun menuju Bandara Soekarno-Hatta. Perubahan operasional dapat terjadi mengikuti perkembangan kondisi di lapangan dan informasi keselamatan penerbangan terbaru.
Bagi calon penumpang, situasi ini bisa menghadirkan ketidakpastian. Jadwal perjalanan yang sudah disusun dapat berubah, sementara aktivitas di bandara sangat bergantung pada keputusan otoritas penerbangan dan perkembangan kondisi atmosfer maupun vulkanik.
AirNav Indonesia juga mengingatkan bahwa informasi dalam NOTAM bersifat dinamis. Karena itu, data mengenai status operasional bandara dapat berubah dan perlu dipantau melalui kanal informasi aeronautika resmi.
Dokumen tersebut menyediakan rujukan informasi resmi melalui layanan NOTAM AirNav Indonesia. Masyarakat yang membutuhkan informasi penerbangan terkini diarahkan untuk mengakses layanan informasi aeronautika guna memastikan status operasional sebelum melakukan perjalanan.
Baca Juga: Inflasi di DIY Naik, Karakter Konsumen Turut Jadi Kunci Bisnis Pusat Perbelanjaan
Penutupan bandara akibat abu vulkanik menunjukkan bagaimana fenomena alam dapat dengan cepat bersinggungan dengan mobilitas masyarakat. Langit yang tampak biasa dari daratan belum tentu berarti kondisi penerbangan sepenuhnya aman. Dalam penerbangan, faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama sebelum sebuah bandara kembali melayani pergerakan pesawat.
Untuk penumpang yang terdampak, langkah paling aman adalah memeriksa informasi penerbangan secara berkala dan berkoordinasi dengan maskapai terkait jadwal keberangkatan maupun kedatangan. Jangan hanya mengandalkan informasi lama karena NOTAM dapat diperbarui mengikuti kondisi terbaru.
Hingga informasi dalam NOTAM tersebut, Bandara Soekarno-Hatta tercatat ditutup sementara karena abu vulkanik Krakatau. Waktu penutupan dan status operasional selanjutnya tetap perlu dikonfirmasi melalui informasi aeronautika resmi karena kondisi tersebut bersifat dinamis.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja