Trotoar Bukan Jalur Alternatif, Ketika Mahasiswa Turun Tangan Ajarkan Tertib

Della Hardi Puspita • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 13:05 WIB
Mahasiswa berjalan kaki dan berfoto di trotoar, sementara kendaraan bermotor tetap berada di jalan raya. Dok instagram mhzriell
Mahasiswa berjalan kaki dan berfoto di trotoar, sementara kendaraan bermotor tetap berada di jalan raya. Dok instagram mhzriell

 SUMEDANG – Video di Instagram kembali memperlihatkan kebiasaan yang tidak baik di jalan raya: para pengendara sepeda motor naik ke trotoar hanya untuk melewati kemacetan. Dalam video itu, seorang mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) di area Jatinangor terlihat berdiri di tengah trotoar lalu dengan tenang meminta pengendara untuk turun. Ia tidak berteriak, tidak memaksa. Ia hanya menyampaikan bahwa trotoar bukan tempat untuk kendaraan.

Aksi sederhana itu viral karena mencerminkan kelelahan masyarakat. Sakit melihat trotoar yang dibangun dengan uang rakyat justru digunakan sebagai jalan pintas. Lelah melihat pejalan kaki, lansia, ibu bersama anak, serta penyandang disabilitas harus minggir karena jalannya dirampas. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jatinangor. Di Yogyakarta, juga sering terlihat motor naik trotoar saat jam sibuk.

Trotoar berfungsi memberikan tempat yang aman bagi pejalan kaki. Ketika motor masuk, fungsi itu hilang. Yang terjadi bukanlah solusi kemacetan, melainkan pemindahan masalah dari jalan raya ke bahu pejalan kaki yang paling rentan. Alasan "daripada macet" tidak bisa jadi pembenaran. Kemacetan adalah masalah bersama yang harus diselesaikan bersama, bukan dengan mengambil hak orang lain.

Secara hukum, berkendara di trotoar melanggar Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Nomor 22 Tahun 2009 dan dapat dikenai sanksi. Namun di luar hukum, ada persoalan budaya. Tertib tidak akan muncul jika kita hanya taat saat ada razia. Tertib lahir dari pemahaman bahwa aturan itu melindungi semua orang, termasuk diri sendiri saat sedang berjalan kaki.

Baca Juga: Gagal Datangkan Vinicius Junior Ataupun Julian Alvarez, Arteta Puji Ambisi Arsenal

Oleh karena itu, tindakan mahasiswa dalam video tersebut patut diapresiasi. Ia menunjukkan keberanian sosial. Menegur pelanggar di tempat umum berisiko, bisa disahut atau diprotes. Tapi ia melakukannya dengan cara mengajari, bukan menyalahkan. Hanya mengingatkan: "Mas, ini jalur untuk pejalan kaki".

Dampaknya lebih besar dari yang terlihat. Video itu ditonton jutaan orang dan kolom komentar penuh dukungan: "Terima kasih sudah berani". Ini artinya masyarakat haus contoh. Satu orang yang berani bertindak bisa menimbulkan efek berantai. Yang melihat jadi malu ikut melanggar. Yang ditegur jadi berpikir dua kali.

Perubahan kebiasaan tidak datang dari satu razia besar. Ia datang dari tekanan sosial kecil yang konsisten. Dari teguran di satu titik oleh satu orang. Semakin banyak warga berani melakukan hal yang sama, semakin cepat norma baru terbentuk. Norma bahwa trotoar tidak bisa ditawar. Norma bahwa alasan apa pun, termasuk menghindari kemacetan, bukan pembenaran untuk melanggar.

Baca Juga: Carrick Mengaku Cukup Puas dengan Pergerakan Manchester United di Bursa Transfer

Pesan akhirnya jelas: trotoar hanya untuk pejalan kaki. Titik. Aksi mahasiswa itu bukan cari sensasi. Itu pendidikan paling jujur, diajarkan langsung di jalan oleh sesama warga.

Jika ingin kota yang nyaman, mulailah dari hal kecil. Tidak ikut naik ke trotoar. Berani mengingatkan dengan baik. Karena kota tertib tidak hanya dibangun oleh petugas, tetapi juga oleh warga yang peduli.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Instagram
pejalan kaki kemacetan Trotoar unpad sumedang