Karhutla 2026 Sudah 100 Ribu Hektare Lebih, Kalbar Jadi Wilayah Paling Terdampak 

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 17:34 WIB
Karhutla di sejumlah wilayah di Kalimantan, Indonesia. (Tangkapan layar: Gmaps)
Karhutla di sejumlah wilayah di Kalimantan, Indonesia. (Tangkapan layar: Gmaps)

 


RADAR JOGJA - Sampai pertengahan Agustus 2026, luas lahan yang terbakar di Indonesia sudah menembus ratusan ribu hektare, dan lintasannya makin mendekati rekor terburuk sejak 2019.

Berdasarkan data dari SiPongi Kementerian Kehutanan pada tangga 20 Agustus 2026, Kalimantan Barat mencatat area terbakar terluas di antara enam provinsi prioritas, mencapai sekitar 38.310 hektare.

Provinsi ini juga konsisten jadi penyumbang titik panas terbanyak sepanjang Agustus, bahkan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani secara khusus menyebut Kalbar sebagai prioritas nomor satu.

Mengenai jumlah hotspot aktif, posisi teratas justru dipegang Kalimantan Tengah.

Baca Juga: Diduga Dipicu Aksi Iseng Anak-Anak dan Pembakaran Sampah, Kebakaran Hutan dan Lahan Landa Bantul

Data BNPB per 19 Agustus mencatat 767 titik panas di provinsi ini, disusul Kalimantan Barat dengan 560 titik, jauh di atas Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur yang masing-masing hanya 74 titik.

BMKG dan BNPB juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca alias hujan buatan di provinsi ini sejak 30 Juli, dan masih berlangsung hingga 22 Agustus 2026.

Data resmi SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla Januari-Juni 2026 sudah 107.465 hektare, melonjak 120 persen dibanding periode 2019.

Sementara platform independen Nusantara Atlas lewat dasbor FireWatch mencatat angka lebih tinggi lagi yaitu 285.914 hektare terbakar Januari-Juli.

Baca Juga: Terjatuh di Kawah Gunung Slamet, Pemuda Asal Brebes Ditemukan Sudah Tak Bernyawa

Perbedaan angka ini wajar terjadi karena metode pemantauan satelit yang berbeda.

Namun sama-sama merujuk pada konklusi yang sama, El Nino Super dan musim kebakaran terparah Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.

Kabut asap dari Kalimantan sampai membuat pemerintah Sarawak, Malaysia, meliburkan sementara sejumlah sekolahnya.

Di sisi perbatasan Indonesia sendiri, siswa tetap masuk sekolah seperti biasa meski kualitas udara sama-sama terdampak.

Koordinator Pengkampanye Walhi Nasional, Uli Artha Siagian, menyoroti anggaran BNPB 2026 yang hanya berkisar Rp3-4 triliun, jauh lebih rendah dibanding periode krisis karhutla 2015, 2019, maupun 2022-2024.

Baca Juga: Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg Ligue 1, H2h dan Susunan Pemain, Les Olimpiens Pemenangnya?

Kenapa terus berulang tiap tahun?

Kepala Divisi Advokasi Walhi Kalbar, Indra Syahnanda, menegaskan akar masalahnya bukan semata soal cuaca kering.

Menurutnya, tata kelola lahan gambut yang memburuk sejak era 2000-an dengan ditandainya maraknya izin usaha yang membongkar lahan gambut.

Hal itu jadi biang utama yang membuat kawasan ini terus rentan terbakar setiap musim kemarau tiba.

BMKG memperingatkan, risiko karhutla justru diprediksi baru mencapai puncaknya Agustus-September 2026, dengan wilayah terdampak berpotensi meluas ke Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.

Artinya, data-data mengkhawatirkan di atas kemungkinan besar masih akan terus bertambah dalam beberapa minggu ke depan, sebelum musim kemarau benar-benar berakhir. 


Editor : Meitika Candra Lantiva
Karhutla 2026 Wilayah Paling Terdampak Walhi Nasional kalbar BMKG