Gempa M 7,7 Guncang NTT, 38 Orang Meninggal dan Air Laut Sempat Surut Mendadak

Fibrian Putri Heragung • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:09 WIB
Ilustrasi gempa bumi.
Ilustrasi gempa bumi.

NUSA TENGGARA TIMUR - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 15 Agustus 2026. Getaran kuat yang terjadi sekitar pukul 05.58 WITA itu tidak hanya dirasakan di wilayah NTT, tetapi juga menjalar hingga sejumlah kawasan di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di wilayah utara Mbay, Kabupaten Nagekeo. Episentrum gempa tercatat pada koordinat 8,33 derajat Lintang Selatan dan 121,32 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer.

Kekuatan gempa dan lokasinya yang relatif dangkal membuat guncangan terasa kuat. Situasi semakin mencekam ketika BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Masyarakat yang berada di kawasan pesisir pun diminta meningkatkan kewaspadaan dan menjauh dari pantai.

Di tengah kepanikan tersebut, muncul fenomena yang membuat warga pesisir semakin waspada. Permukaan air laut terlihat menyusut secara tiba-tiba. Air bahkan tampak jauh lebih rendah dari kondisi biasanya, hingga bagian tiang penyangga jembatan publik yang lazimnya terendam ikut terlihat.

Baca Juga: Mepasah di Trunyan: Tradisi “Kubur Angin” Bali yang Membiarkan Jasad Kembali ke Alam

Surutnya air laut secara mendadak setelah gempa kuat menjadi salah satu fenomena alam yang harus diperhatikan masyarakat pesisir. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda datangnya tsunami sehingga masyarakat tidak dianjurkan menunggu informasi berikutnya untuk segera menjauh dari garis pantai ketika merasakan gempa kuat.

Sebelumnya, BMKG juga sempat menerbitkan peringatan dini tsunami setelah gempa awal tercatat berkekuatan M7,0. Wilayah Ngada bagian utara ditetapkan dalam status waspada, dengan perkiraan waktu kedatangan tsunami sekitar pukul 05.01 WIB.

Gelombang tsunami kemudian terdeteksi di sejumlah wilayah. Di Sikka, tinggi gelombang tercatat 0,19 meter. Sementara di Labuan Bajo mencapai 0,36 meter dan Dompu tercatat 0,17 meter.

Peringatan dini tsunami akhirnya dinyatakan berakhir pada Sabtu pagi. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyampaikan sistem peringatan tsunami akibat gempa M7,7 telah selesai. Meski demikian, masyarakat tetap diminta mengikuti informasi resmi dan tidak mengabaikan potensi perubahan kondisi.

Baca Juga: HUT Ke-81 Jateng: Bedah Rumah Dibarengi Upaya Bangkitkan Ekonomi Keluarga

Di balik angka-angka tersebut, gempa meninggalkan duka yang dalam. Data BNPB hingga Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 15.00 WIB mencatat 38 orang meninggal dunia dan 13 orang mengalami luka-luka. Dari korban luka, dua orang mengalami luka berat dan 11 lainnya luka ringan.

Sekitar 2.000 warga juga memilih mengungsi secara mandiri untuk mencari tempat yang lebih aman. Gempa turut mengganggu sejumlah fasilitas umum, termasuk beberapa ruas jalan yang dilaporkan tertutup material longsor. Pemeriksaan kondisi jalan masih dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.

Bencana ini menjadi pengingat bahwa gempa kuat dapat datang tanpa banyak tanda. Bagi masyarakat pesisir NTT dan wilayah lain yang rawan tsunami, menjauh dari pantai setelah merasakan gempa kuat merupakan langkah penting untuk menyelamatkan diri.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
gempa NTT Gempa M 7 7 Tsunami NTT BNPB