RADAR JOGJA - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD RI pada Jumat (14/8/2026) mengenai upah buruh pengupas bawang sebesar Rp 700.000 per kilogram (kg) memicu sorotan publik.
Pernyataan yang disampaikan saat memperkenalkan Susanah, buruh harian asal Bogor penerima Program Keluarga Harapan (PKH), dinilai tidak masuk akal.
Hal ini menuari reaksi warganet.
"Bagaimana mungkin. Harga bawang per kilogramnya saja di kisaran Rp 45 ribu, masak yang gupas Rp 700 Ribu," ungkap Samin, seorang warganet heran.
Menurutnya presiden perlu membaca ulang prompt text dan memperhatikan data sebelum memulai pidato.
"Agar tidak salah ucap," lanjutnya.
Apalagi terkait gaji di tengah kesenjangan ekonomi.
Baca Juga: Bendera Raksasa Berkibar di Tebing Selopamioro, Simbol Perjuangan Kemerdekaan di Ketinggian 40 Meter
Lantas warganet lainnya, dalam video yang dibagikan akun Bangafri turut mengomentari pidato Prabowo ini dan membuktikan langsung di lapangan.
Ia menanyakan langsung kepada ibu-ibu pengupas bawang di Cimanggis, Kota Bogor terkait jumlah upah per kilogramnya
Tenyata jauh dari pernyataan Presiden Prabowo.
"Sekilo di sini 1.200, 10 kilo 12 ribu pak Prabowo, 700 ribu di mananya. Kabupatennya mana pak Prabowo, ini di Kota Bogor," ungkapnya.
Menanggapi hal itu, Pemerintah RI klarifikasi.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) Muhammad Qodari mengatakan Presiden Prabowo salah sebut angka saat menyebutkan upah kupas bawang di tengah pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Baca Juga: Bradley Barcola dan Ibrahim Mbaye Tak Masuk Skuad PSG, Sinyal ke Liverpool Semakin Menguat?
"Sebetulnya naskahnya itu kan 700 rupiah per kilogram. Dan rasanya juga sebetulnya kalau membaca dengan menganalisa dengan baik saya kira pasti nggak mungkin lah 700 ribu. Sekali lagi itu murni merupakan sisi manusiawi dari seorang Pak Prabowo," ungkap Qodari, saat dipanggil di sebuah stasiun TV.
Bukan hanya presiden, di beberapa kesempatan bertemu dengan media, dia pun mengaku pernah salah sebut.
"Jadi itu sesuatu yang sebetulnya sangat manusiawi," katanya.
Meski demikian ia meminta maaf atas kekurangan dan kesalahan.
"Kesalahan membaca teks pidato bahwa hal manusiawi," tegasnya ulang.
Editor : Meitika Candra Lantiva