RADAR JOGJA - Sebuah karya kapur sederhana di atas aspal viral.
Gambar itu menampilkan angka "8" berbentuk sosok pria bertubuh gemuk mengenakan pakaian rapi, berdiri menyamping seolah memandang angka "1" yang justru digambar sebagai sosok pria kurus kering dengan penampilan menyedihkan.
Yang membuat karya ini semakin tajam maknanya adalah, tepat di bawah gambar tersebut ada tulisan "Indonesia Berdaulat, Adil untuk yang Makmur".
Baca Juga: Marc Klok: Timnas Indonesia Akan Berjuang Demi 280 Juta Rakyat Saat Hadapi Singapura
Sangat berpautan dengan tema resmi HUT ke-81 Kemerdekaan RI sendiri yang mengusung slogan "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur".
Si pembuat karya tampaknya sengaja mengubah satu kata kecil, dari "dan Makmur" menjadi "untuk yang Makmur", tapi mengubah maknanya secara total.
Tulisan itu menjadi sindiran bahwa keadilan dan kemakmuran itu selama ini hanya dirasakan segelintir pihak saja.
Warganet mengartikan gambar ini sebagai sindiran ketimpangan ekonomi di Indonesia.
Sosok gemuk melambangkan kemakmuran segelintir pihak, sosok kurus melambangkan kemiskinan yang masih dialami sebagian besar rakyat.
Baca Juga: DPR Desak Kemenkes Usut Dugaan Nakes Hina Pasien BPJS Yurizal
Sebagian warganet bahkan menilai sosok gemuk pada angka 8 mirip dengan Presiden Prabowo Subianto.
Sampai artikel ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi soal identitas pembuat mural ini, lokasi persisnya, maupun maksud sebenarnya di balik pemilihan visual tersebut.
Menariknya, ini bukan kali pertama angka "81" memicu tafsir serupa tahun ini.
Akhir Juni 2026 lalu, logo resmi HUT ke-81 Kemerdekaan RI, karya desainer Fajar Novaryo yang terpilih lewat voting publik dengan perolehan 44,73 persen suara, juga sempat ramai dikaitkan warganet dengan sosok yang sama.
Baca Juga: Makna Busana Adat Jawa Sanggul dan Beskap dalam Filosofi Kehidupan Masyarakat Urban
Saat itu, akun X @txtdrimedia mengunggah cuitan yang membandingkan bentuk logo resmi dengan kesan "Indonesia banget" versus "Prabowo banget", lengkap dengan emoji yang menyindir.
Sejumlah warganet lain ikut menimpali dengan komentar bernada satire soal gaya kepemimpinan yang dianggap identik dengan pidato panjang.
Dua peristiwa terpisah yang memiliki pola serupa.
Angka "81" yang seharusnya jadi simbol perayaan kemerdekaan, justru berulang kali ditarik warganet ke ranah interpretasi politik dan sosial.
Baca Juga: Jateng Bidik Peluang Besar di IKN, Ahmad Luthfi Jajaki Investasi hingga Pasar Furnitur Jepara
Fenomena ini pada akhirnya menunjukkan satu hal, terlepas dari benar atau tidaknya tafsir yang beredar.
Di era media sosial, sekecil apa pun elemen visual publik.
Mulai dari logo resmi negara hingga gambar kapur buatan warga tetap berpotensi jadi media untuk masyarakat menyuarakan keresahan yang mereka rasakan.
Tentang kesenjangan, tentang harapan, dan tentang cara mereka memandang negaranya sendiri.
Editor : Meitika Candra Lantiva