RADAR JOGJA - Dua orang ayah meninggal dalam waktu berdekatan, yaitu akhir Juli 2026.
Dua-duanya sama-sama meninggalkan anak.
Tapi nasib setelah kematian mereka jauh berbeda.
Yang satu, Sumarna (40), adalah satpam penjaga objek vital Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.
Ia ditemukan tewas pada Jumat (24/72026) dalam kondisi mengenaskan.
Kedua tangannya terborgol ke belakang dan masih mengenakan seragam dinas lengkap lalu ditemukan mengambang di tepi waduk.
Dua hari sebelum kematiannya, Sumarna sempat menegur sekelompok orang yang diduga melakukan vandalisme di kawasan itu.
Saat malam terakhirnya, ia masih sempat membalas pesan istrinya, Siti Mariam, sekitar pukul 22.00 WIB.
Setelah itu, tiga kali telepon dari sang istri tak pernah terjawab.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Pengadaan WiFi Diskominfo Sudah Naik Penyidikan, Polresta Sleman Periksa 30 Saksi
Polisi menduga kuat ada unsur pembunuhan dalam kematian Sumarna, meski hingga kini belum ada satu pun tersangka ditetapkan.
Sumarna meninggalkan istri dan dua orang anak.
Perusahaannya, Perum Jasa Tirta II, memberi santunan dan menjamin pendidikan kedua anaknya.
Tapi di luar itu, nyaris tidak ada gelombang simpati publik.
Tidak ada video menangis yang viral, tidak ada selebritas yang angkat bicara, dan tidak ada donasi yang mengalir dari berbagai penjuru.
Baca Juga: Dugaan Privatisasi Plang Malioboro untuk Spot Foto Rp 5 Ribu, Dispar DIY Minta Ditertibkan
Netizen menyoroti dan membandingkan dengan kematian KD, seorang ayah di Buleleng, Bali.
KD tewas dikeroyok massa dini hari Jumat yang sama, di Baturiti, Tabanan, setelah diduga kepergok mencuri ayam aduan.
Motornya pun turut dibakar oleh warga yang emosi.
Video anak KD menangis histeris di depan jenazah sang ayah menyebar ke seluruh linimasa.
Dalam hitungan hari, bantuan mengalir deras.
Baca Juga: Klarifikasi Istilah "Londo Ireng", Komdigi Tegaskan Pemerintah Tetap Terbuka Terhadap Kritik Publik
Pemkab Buleleng mengirim sembako dan pakaian.
Pendidikan anak-anaknya dijamin lewat Program Indonesia Pintar dan Sekolah Rakyat.
Psikolog juga ikut dikerahkan mendampingi trauma mereka.
Rumah keluarganya diusulkan direnovasi lewat program bedah rumah.
Beberapa selebritas salah satunya Aldi Taher ikut bersuara di media sosial.
Baca Juga: Asal Muasal Istilah Londo Ireng yang Belakangan Viral Dinarasikan Benjamin Thomas Sigar
Partai politik dan organisasi buruh turut menjanjikan bantuan.
Lima orang sudah ditetapkan tersangka atas kematian KD, jauh lebih cepat dibanding proses hukum kematian Sumarna yang masih terlihat meraba-raba.
Dua anak yang sama-sama kehilangan ayah.
Satu ayah bekerja sah menjaga aset negara, satu diduga mencuri.
Tapi yang menentukan besar kecilnya simpati publik, ternyata bukan soal siapa yang benar atau salah di mata hukum.
Baca Juga: Real Madrid Serius Incar Rodri, Manchester City Berupaya Kunci Masa Depan Sang Bintang
Melainkan siapa yang punya video paling menyayat hati, dan siapa yang lebih dulu ditemukan kamera warganet.
Di era media sosial, empati publik kerap mengikuti algoritma viralitas, bukan skala tragedi.
Kasus yang punya "bahan visual" kuat kenyataannya jauh lebih mudah menembus linimasa dibanding kasus yang faktanya sama pilunya, tapi tak terekam kamera siapa pun.
Editor : Meitika Candra Lantiva