RADAR JOGJA - Warga dua kampung di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, patungan lebih dari Rp 1 miliar untuk memperbaiki Jembatan Enang-Enang yang rusak akibat banjir dan longsor sejak November 2025 secara mandiri, setelah berbulan-bulan menunggu tanpa kepastian dari pemerintah.
Jembatan yang menjadi jalur utama distribusi kopi Gayo dan akses ke fasilitas kesehatan dan pendidikan ini berstatus sebagai Jalan Nasional, sehingga sebenarnya perbaikannya merupakan wewenang penuh Kementerian Pekerjaan Umum (PU), bukan Pemkab Bener Meriah maupun Pemerintah Aceh.
Merasa putus asa menunggu, warga Kampung Alur Cincin dan Alur Gading akhirnya sepakat urunan menyewa eskavator sendiri Mei lalu.
Baca Juga: Bukan Balas Dendam, Mohamed Ouahbi Ingin Bawa Maroko Mencapai Semifinal Piala Dunia 2026
Dana yang terkumpul tembus Rp 1,08 miliar, sekitar Rp 526 juta sudah dipakai untuk pengaspalan dan sisanya untuk dinding penahan jalan dan fasilitas umum lain.
"Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu," ujar tokoh masyarakat Sahrial Abadi saat peresmian jembatan, Kamis (2/7/2026), yang berlangsung haru serta diiringi shalawat.
Menteri PU Dody Hanggodo mengapresiasi inisiatif warga, namun menegaskan bahwa hal itu belum cukup dari sisi standar keamanannya.
"Kita berterima kasih, pasti. Tapi, aksi swadaya itu belum cukup. Masih ada beberapa hal teknis yang harus kita tambahkan," katanya, Senin (6/7/2026), sembari menjanjikan peninjauan langsung ke lokasi.
Warga tetap berharap pemerintah pusat merealisasikan pembangunan jembatan permanen, alih-alih hanya mengandalkan hasil swadaya yang mereka bangun sendiri.
Editor : Meitika Candra Lantiva