YOGYAKARTA — Sebuah karya lagu berbahasa Sunda berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejad" ciptaan Saepul Bahri Binzein selaku Bupati Purwakarta, atau yang akrab disapa Om Zein, mendadak viral dan memicu kontroversi panas di ruang publik.
Lagu tersebut menuai gelombang kecaman luas dari berbagai kalangan, mulai dari anggota DPR, tokoh publik, seniman, hingga lembaga bantuan hukum karena liriknya dinilai bias gender, seksis, serta merendahkan martabat kaum perempuan.
Perdebatan mencuat setelah sebagian lirik lagu tersebut kedapatan menyinggung persoalan biologis, penampilan fisik, hingga kesehatan reproduksi perempuan secara vulgar.
Beberapa bait yang dipersoalkan di antaranya membandingkan keuntungan menjadi laki-laki yang tidak perlu mengalami telat bulan (menstruasi), tidak perlu membeli bra, hingga menyindir pengalaman traumatis mengenai keguguran di usia sekolah (analogi anak kelas 3 SMP).
Dikritik Atalia Praratya hingga Sindiran Penyanyi Rossa
Kritik keras salah satunya datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya. Melalui pernyataan resminya pada Kamis (2/7/2026), Atalia menyatakan keprihatinan mendalam dan menegaskan bahwa dirinya tidak menemukan unsur penghormatan terhadap perempuan sedikit pun dalam lagu tersebut.
"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan. Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi. Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," tegas Atalia.
Menurut Atalia, seorang pejabat publik semestinya lebih bijak dalam memilih pesan yang disampaikan kepada masyarakat luas, alih-alih melahirkan narasi patriarki yang menodai perjuangan kesetaraan gender.
Kritik tersebut juga memancing reaksi dari penyanyi senior Rossa. Pelantun tembang Pudar ini melontarkan sindiran singkat berbahasa Sunda yang ikut ramai diperbincangkan warganet. "Judulna lalaki langit. Penyanyi: Lalaki Gering. Kitu ie teh? (Judulnya Lelaki Langit. Penyanyi: Lelaki Sakit. Gitu maksudnya?)," tulis Rossa.
Disomasi LBH Jabar dan Analisis Pengamat Budaya
Persoalan ini kian merembet ke ranah hukum setelah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jabar melayangkan somasi terbuka dengan Nomor 023/SOM/JBH/VII/2026 kepada Saepul Bahri Binzein.
Ketua LBH Jabar, Riyan Bintana, menyatakan berdasarkan kajian hukum ditemukan fakta tak terbantahkan bahwa lagu tersebut memuat substansi misoginis yang mendegradasi harkat perempuan secara vulgar.
"Diksi-diksi tersebut tidak mencerminkan nilai kritik sosial yang sehat, melainkan bentuk penghinaan verbal terhadap integritas tubuh, kesehatan reproduksi, dan moralitas kaum perempuan," ujar Riyan. LBH Jabar menuntut bupati untuk menghentikan penyebaran, menghapus lagu dari platform digital, serta meminta maaf terbuka dalam waktu 3x24 jam, atau menghadapi gugatan perdata serta pidana UU ITE dan UU TPKS.
Di sisi lain, pengamat budaya Budi Dalton turut memberikan analisisnya. Budi menilai humor yang disisipkan dalam lagu tersebut sebenarnya mengadopsi gaya candaan lokal masyarakat Sunda (heureuy). Namun, ketika karya tersebut masuk ke media sosial dan dikonsumsi masyarakat luas, tolok ukur penerimaannya bergeser.
Satire tersebut dinilai gagal karena menjadikan pengalaman biologis perempuan sebagai bahan komedi, sehingga terbaca sebagai bentuk kekerasan simbolik yang memperkuat posisi patriarki. Dampak dari polemik ini, aliansi masyarakat Sunda bahkan mendesak sang bupati untuk meletakkan jabatannya karena dianggap mencoreng etika kepemimpinan.
Om Zein Menyampaikan Permintaan Maaf Resmi
Menanggapi gelombang kecaman yang kian membesar, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara resmi melalui laman PPID Kabupaten Purwakarta.
Ia menjelaskan bahwa lagu tersebut sebenarnya merupakan refleksi personal dan murni cerita tentang dirinya sendiri tanpa ada maksud untuk menyinggung pihak tertentu. Namun, sebagai kepala daerah, ia menghormati adanya perbedaan sudut pandang dari masyarakat dalam menafsirkan karya seninya.
"Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri," pungkas Om Zein. (Tita Aurelia Pitaloka)
Editor : Bahana.