KAPUAS – Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) menarik kembali 10 mahasiswanya dari Desa Bina Mekar, Kecamatan Kapuas Murung, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.
Kesepuluh mahasiswa Program Studi Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan ini telah menyelesaikan pendampingan brigade pangan dalam program cetak sawah rakyat.
Mereka melaksanakan misi pengolahan lahan bera menjadi sawah. Hal ini untuk mendukung upaya Kementerian Pertanian dalam mengakselerasi swasembada pangan nasional.
Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan penguatan produksi pertanian nasional terus dilakukan melalui perluasan lahan, rehabilitasi irigasi, dan program strategis lainnya agar Indonesia bisa terlepas dari ketergantungan impor pangan. "Dulu Indonesia menjadi pasar besar bagi pangan dunia. Tetapi sekarang kita ingin berdiri di atas kaki sendiri," ujar Mentan Amran.
Untuk itu Ia mengajak generasi muda untuk berpatisipasi aktif. Sebab, perjuangan mencapai kemandirian pangan merupakan tugas seluruh anak bangsa yang harus dijaga bersama.
Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Idha Widi Arsanti menyebut program cetak sawah rakyat (CSR) berkontribusi pada peningkatan produksi pangan nasional. “Keberhasilan program ini memerlukan percepatan tanam serempak, pemanfaatan teknologi, dan pelibatan generasi muda untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional,” katanya.
Ia menambahkan, berdasarkan data realisasi tanam periode Oktober 2025 hingga 10 Juni 2026, lahan cetak sawah rakyat telah tertanami seluas 58.028 hektare atau 95,44 persen dari target yang ditetapkan.
Rindang Sofyan Prasetyo, pranata laboratorium pendidikan Polbangtan Yoma, sekaligus pendamping mahasiswa, melaporkan bahwa sampai dengan saat ini, Brigade Pangan Kapuas Murung telah mengolah 200 hektare lahan bera dan menanam 30 hektare lahan.
Ditemui di kampus Tegalrejo, Minggu (21/6/2026), salah satu mahasiswa yang turut mendampingi CSR di Kapuas, Erlija Zekli Mario, mengaku senang bisa berperan nyata dalam upaya peningkatan produktivitas padi. “Selama dua bulan kami mendapatkan pengalaman mendampingi petani melakukan olah lahan, aplikasi kapur dolomit dan pupuk kandang, menyemai benih padi, hingga proses tanam,” jelas Erlija.
Ia menilai program cetak sawah rakyat sangat bermanfaat bagi petani. “Saya lihat langsung, program ini benar-benar membantu pemberdayaan ekonomi petani lokal. Petani mendapatkan fasilitas untuk mengolah lahan yang tadinya kurang produktif jadi punya nilai ekonomi," papar mahasiswa semester 6 ini.
Ia pun berharap agar program ini bisa berkelanjutan dan membuka banyak lapangan pekerjaan baru di bidang pertanian. “Dengan adanya cetak sawah rakyat bisa membuat para anak muda tertarik untuk ikut bertani dan mengembangkan potensi desanya," ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Bina Mekar Salihin mengapresiasi program ini. Ia berharap kolaborasi Kementan dan pemerintah daerah selalu terjaga untuk masa depan desa yang lebih mandiri dan berdaya saing. “Keberhasilan program cetak sawah rakyat menjadi bukti bahwa kemajuan industri dan kesejahteraan Masyarakat lokal dapat berjalan beriringan," ujarnya.(yog)
Editor : Yogi Isti Pujiaji