RADAR JOGJA - Kabar baik berembus bagi para pengguna bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di tanah air.
Setelah sempat merangkak naik akibat ketegangan geopolitik global, harga Pertamax dipastikan segera menyesuaikan arah angin pasar internasional yang kini tengah mengalami penurunan tajam.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara terbuka menyampaikan adanya potensi penurunan harga untuk produk BBM nonsubsidi seperti Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95. Sinyal positif ini muncul menyusul merosotnya harga minyak mentah di pasar global secara signifikan.
Baca Juga: Hugo Broos Pertanyakan Aturan VAR Yang Berbeda untuk Lionel Messi dan Themba Zwane
Juru Bicara Menteri ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa pergerakan harga BBM nonsubsidi di Indonesia sifatnya sangat dinamis dan mutlak mengikuti mekanisme pasar bebas.
Aturan ini juga telah dikukuhkan secara resmi dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG/01/MEM.M/2022 yang menetapkan formula dasar perhitungan harga eceran komoditas tersebut.
"Apakah harganya bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM nonsubsidi juga akan ikut turun," ujar Anggia dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Namun, Anggia juga mengingatkan bahwa kondisi ini berlaku dua arah.
Saat harga minyak dunia menanjak, penyesuaian ke harga keekonomian tidak bisa dihindarkan.
Langkah penyesuaian tersebut dinilai krusial agar pengadaan energi nasional tidak terganggu dan tetap berjalan berkelanjutan.
Kemerosotan harga minyak global kali ini dipicu oleh meredanya tensi politik setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang diikuti dengan dibukanya kembali jalur perdagangan vital di Selat Hormuz.
Langkah diplomasi ini membuka keran bagi Iran untuk kembali menyuplai minyak mentah ke pasar internasional dalam volume besar.
Sebelum tren penurunan ini terjadi, harga Pertamax di dalam negeri memang sempat disesuaikan menjadi Rp16.250 per liter, dan Pertamax Green 95 menyentuh Rp17.000 per liter.
Kendati demikian, Dwi Anggia mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya terhitung lambat dalam menaikkan harga jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara yang sudah jauh lebih dulu melakukan penyesuaian.
Sejak April lalu, Pemerintah bersama badan usaha milik negara (BUMN) berupaya keras menstabilkan harga atas arahan langsung Presiden Prabowo Subianto.
"Waktu April kemarin, sesuai arahan Presiden, pemerintah masih mencoba menjaga kestabilan ekonomi dan daya beli masyarakat. Makanya sempat ada diskusi dengan badan usaha pelat merah maupun swasta untuk mempertahankan harga," ujar Anggia.
Di tengah dinamika naik-turunnya harga lini nonsubsidi, masyarakat menengah ke bawah tidak perlu cemas.
Pemerintah memberikan jaminan penuh bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami lonjakan sama sekali demi memitigasi dampak bagi kelompok masyarakat yang rentan secara ekonomi.
Penegasan senada juga disampaikan oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri.
Melalui pernyataan resmi di akun Instagram Pertamina, Simon memastikan bahwa seluruh operasional dan kebijakan harga komoditas bersubsidi tetap berjalan sesuai dengan koridor ketentuan yang dipatok pemerintah.
Baca Juga: Prediksi Skor Ghana vs Panama Piala Dunia 2026 Grup L Kamis 18 Juni
"Penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak dunia, dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," terang Simon.
Ia menjamin harga BBM penugasan dan subsidi tidak bergerak sepeser pun. Harga Pertalite tetap berada di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter, sesuai dengan ketetapan yang berlaku.
Dengan kondisi pasar global yang kian mendingin dan pasokan minyak mentah dunia yang kembali melimpah, peluang bagi para pemilik kendaraan untuk menikmati penurunan harga Pertamax dalam waktu dekat kini terbuka lebar.
Penyesuaian berkala dari pihak Pertamina dan korporasi penyedia energi lainnya diperkirakan akan segera mengikuti perkembangan positif ini.
Editor : Meitika Candra Lantiva