Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BEM SI: Turut Berduka Cita Atas Anjloknya Rupiah, Begini Respon Istana terhadap Ultimatum BEM Minta Perbaiki Ekonomi dalam 18 Hari

Tita Aurelia Pitaloka • Rabu, 10 Juni 2026 | 11:52 WIB
Tenaga Ahli Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Johanes Joko menerima 13 tuntutan tertulis dari aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) di kawasan Patung Kuda atau Patung Arjuna Wiwaha, Jakarta Pusat, Jumat (20/10/2023). ANTARA/Erlangga Bregas Prakoso
Tenaga Ahli Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Johanes Joko menerima 13 tuntutan tertulis dari aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) di kawasan Patung Kuda atau Patung Arjuna Wiwaha, Jakarta Pusat, Jumat (20/10/2023). ANTARA/Erlangga Bregas Prakoso

JAWA TENGAH - Puluhan Mahasiswa yang tergabung ke dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Tengah (Jateng) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Banj Indonesia (BI) Jateng, Kota Semarang, Jumat (5/6/2026). Pada aksi unjuk rasa tersebut, mereka menyampaikan kritik atas melemahnya rupiah yang telah menembus Rp18 ribu per dolar AS.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi merespons BEM Seluruh Indonesia (SI) yang mengultimatum pemerintah agar memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia dalam waktu 18 hari. 

Prasetyo menyampaikan, Istana menerima aspirasi dari mahasiswa tersebut. "Ya tentunya kami menerima aspirasi tersebut ya, sebagai sebuah masukan tentunya kepada pemerintah," ujar Prasetyo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026). 

Prasetyo mengatakan, dalam beberapa hari terakhir, publik melihat pemerintah betul-betul bekerja sama dan bekerja keras untuk mengatasi masalah-masalah perekonomian.

"Tapi sekali lagi, kita yakin bahwa langkah-langkah yang kita ambil, dengan koordinasi yang erat, dengan koordinasi yang intens, dengan kebijakan yang saling memperkuat satu sama lain, juga yang hari ini memberi kepastian juga kepada para pelaku usaha, kami yakin kita akan dapat mengatasi permasalahan ini," jelasnya.

Baca Juga: Mengorbankan Tidur Demi Me-Time? Mengenal Revenge Bedtime Procrastination

Sementara itu, terkait ultimatum 18 hari yang diberikan mahasiswa, Prasetyo menegaskan tidak semua hal bisa dikerjakan sesuai tenggat waktu. "Ya, kan mohon maaf ya, tidak semua atau tidak segala sesuatu itu bisa dicapai dengan sebuah tenggat waktu yang sudah ditetapkan. Kan begitu. Tidak, tidak semuanya bisa seperti itu," tegas Prasetyo.

 "Tapi yakinlah bahwa yang dimaksud juga oleh adik-adik ini kan adalah semangatnya itu. Semangatnya untuk kita semua bagaimana untuk memang bekerja keras terutama di sektor ekonomi," imbuhnya.

Mereka memberikan ultimatum selama 18 hari kepada pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi nasional di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Ketua BEM UNS, Kailani Rizqi Pratama, mengatakan tenggat waktu tersebut diberikan sebagai bentuk tuntutan kepada pemerintah agar segera mengambil langkah konkret dalam memperbaiki kondisi ekonomi.

 "Kalau kita melihat hari ini, untuk rupiah yang melemah sebanyak Rp18.000, kami hari ini berikan tenggat waktu selama 18 hari untuk memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia," kata Kailani dalam aksi yang digelar mahasiswa.

Menurut dia, angka 18 hari dipilih sebagai simbol yang dikaitkan dengan nilai tukar rupiah yang tengah mengalami tekanan. "Oleh karena itu, jika dalam waktu 18 hari tidak ada upaya perbaikan, maka jangan salahkan kami selaku mahasiswa untuk nanti melakukan penyegelan-penyegelan yang akan kami lakukan dalam tenggat waktu 18 hari di Kementerian Keuangan," ujarnya. 

Editor : Bahana.
#bem si #rupiah anjlok