KULON PROGO - Sebulan terakhir, harga telur bebek terus mengalami penurunan. Padahal peternak mengeluhkan kenaikan harga pakan. Hal ini dipicu melemahnya tingkat pembelian masyarakat.
Sekaligus, melemahnya rupiah yang berdampak ke harga bahan baku pakan.
Salah satu peternak bebek asal Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan Agus Nurmansyah menjelaskan, harga telur terus menyusut. Penurunan harga tersebut telah berlangsung selama empat pekan terakhir. Padahal harga telur bebek sempat mengalami kenaikan saat Idul Fitri.
Baca Juga: Pernah Ingin Akhiri Hidup, Aaron Anak Berkebutuhan Khusus Suarakan Harapan Lewat Lagu
"Sekarang harganya terjun bebas, per butirnya Rp 1.500," ucap Agus, Minggu (17/5).
Agus menyampaikan, selama Idul Fitri harga telur mencapai Rp 2.500. Namun kembali anjlok, setelah beberapa pekan hingga di harga normal sekitar Rp 2 ribu. Penurunan harga telur terus berlanjut hingga pertengahan Mei.
Penurunan dipicu melimpahnya stok telur bebek dari peternak. Di samping itu, daya beli masyarakat cenderung menurun pasca Idul Fitri.
Ia menggambarkan, saat Idul Fitri, masyarakat banyak membeli telur asin untuk makanan di rumah. Kebutuhan telur bebek yang tinggi itu, memicu penyerapan hasil panen di tingkat peternak. Terlebih, pengrajin telur asin yang selalu bekerjasama dengan peternak kebanjiran order dari program MBG.
Kendati harga telur menurun, Agus justru merasa kesulitan memasarkan hasil panennya.
Lantaran, tengkulak hingga pengrajin telur asin justru menurunkan jumlah pembelian. Hal ini, dipicu penurunan minat masyarakat akibat daya beli melemah.
"Seminggu sekali pasti sembilan ribu butir telur selalu habis, sekarang butuh 10 harian baru terjual," ucapnya.
Peternakan milik Agus memiliki produksi telur 1.200 butir per hari. Dalam seminggu, ia dapat mengumpulkan sembilan ribu telur dan selalu ludes terjual.
Konsumennya merupakan, pedagang, tengkulak, hingga pengrajin dari luar daerah. Namun kini, konsumennya lebih memilih mengurangi jumlah pembelian.
Kondisi harga telur yang terjun bebas turut diperparah dengan kenaikan harga pakan.
Baca Juga: Sirkuit Balap di Tengah Kota Tinggal Kenangan, IMI DIY Sebut Kini Sudah Tidak Mungkin
Pakan bebek yang biasanya terbuat dari pelet mengalami kenaikan dari Rp 10 ribu menjadi Rp 15 ribu per karung. Kenaikan ini dipicu melemahnya rupiah terhadap dolar. Mengingat bahan baku pakan biasanya diimpor dari luar negeri.
Agus berharap, harga telur kembali di harga normal. Mengingat harga pakan mengalami fluktuasi dan berakibat ke peternak lokal.
Padahal peternak sepertinya hendak mengembangkan usaha. Namun, tak bisa, mengingat harga telur dan pakan masih belum stabil.
Hal serupa juga diungkapkan pedagang telur di Pasar Bendungan Yuniati. Sebagian besar komoditas telur mengalami penurunan, baik telur ayam hingga bebek. Paling mencolok pada komoditas telur ayam yang mengalami penurunan hingga Rp 5 ribu.
"Ini masih turun terus, telur ayam Rp 25 ribu per kilogram sebelumnya Rp 30 ribu," ungkapnya.(gas)
Editor : Bahana.