Jakarta – Nama Slamet Suradio kembali menjadi sorotan publik setelah utas di media sosial X (Twitter) viral menceritakan kisahnya sebagai masinis KA-225 dalam Tragedi Bintaro 1987.
Beliau divonis bersalah dan dipenjara meski sudah menerima Surat PTP (Pemberitahuan Tentang Persilangan) yang mengizinkan keberangkatan kereta.
Peristiwa nahas tersebut terjadi pada 19 Oktober 1987 di kawasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan.
Dua kereta api beradu banteng di lintasan tunggal: KA-225 jurusan Rangkasbitung-Tanah Abang yang dimasinisi Slamet Suradio bertabrakan dengan KA-220.
Akibatnya, 139 orang meninggal dunia dan 254 orang mengalami luka-luka.
Tragedi ini menjadi salah satu kecelakaan kereta api terburuk dalam sejarah perkeretaapian Indonesia.
Menurut utas yang dibagikan akun @L1L178, Slamet Suradio dituduh memberangkatkan kereta tanpa izin petugas PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api).
Padahal, ia mengaku telah menerima Surat PTP dari petugas Stasiun Sudimara yang menjadi dasar keberangkatan.
Kesalahan komunikasi antara petugas PPKA Stasiun Sudimara dan Stasiun Kebayoran diduga menjadi pemicu utama tabrakan maut itu.
Namun, beban kesalahan lebih banyak ditimpakan kepada masinis level lapangan.
Slamet Suradio juga sempat dituduh melompat keluar dari lokomotif untuk menyelamatkan diri sesaat sebelum tabrakan.
Tuduhan itu dibantahnya keras.
Ia tetap berada di dalam lokomotif dan berusaha menarik rem darurat sekuat tenaga hingga akhir.
Justru asisten masinis yang keluar dari lokomotif.
Pengadilan akhirnya memvonis Slamet Suradio 5 tahun penjara, hukuman paling berat di antara terdakwa lain.
Kondektur Adung Syafei divonis 2,5 tahun, sementara dua PPKA masing-masing 10 bulan.
Setelah bebas, Slamet dipecat dari PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) tanpa hormat dan kehilangan hak pensiun.
Kini di usia senja (lahir 18 Agustus 1939), Slamet Suradio hidup dalam kesederhanaan.
Beberapa laporan menyebut beliau tinggal di Purworejo, Jawa Tengah, dan bertahan dengan berjualan rokok serta tisu di sebuah toko kecil.
Istri pertamanya pun sempat menceraikannya di masa sulit.
Banyak netizen yang membaca utas tersebut merasa miris.
“Dari dulu Indonesia suka salah memilih tersangka,” tulis akun @L1L178 yang menuai ribuan like dan repost.
Komentar lain menyoroti pola “pencarian tumbal” terhadap pekerja lapangan ketimbang memperbaiki sistem komunikasi dan prosedur keselamatan.
Tragedi Bintaro 1987 memang menjadi pelajaran berharga bagi PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Setelah peristiwa itu, dilakukan berbagai pembenahan sinyal, persinyalan, dan prosedur operasional kereta api di Indonesia.
Namun, bagi Slamet Suradio, luka itu tetap membekas.
Ia berulang kali menyatakan tidak bersalah dan hanya menjalankan perintah sesuai surat resmi yang diterimanya.
Sampai saat ini, banyak yang berharap nama baik beliau bisa direhabilitasi secara resmi.
Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya akuntabilitas sistem, bukan sekadar mencari kambing hitam di tingkat paling bawah.
Semoga kisah Slamet Suradio menjadi pengingat agar tragedi serupa tak terulang, dan keadilan benar-benar ditegakkan bagi semua pihak.
Artikel ini disusun berdasarkan utas viral di X dan sumber-sumber terverifikasi seputar Tragedi Bintaro 1987. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin