RADAR JOGJA - Kasus dugaan pelecehan seksual kembali menjadi sorotan publik usai nama Mohan Hazian, pemilik brand clothing lokal Indonesia Thanksinsomnia, ramai diperbincangkan di media sosial.
Perkara ini mencuat setelah adanya pengakuan dari seorang perempuan yang mengaku pernah menjadi talent dan mengalami tindakan tidak pantas saat bekerja.
Korban juga menuturkan bahwa dugaan pelecehan seksual tidak hanya datang dari dirinya seorang, melainkan berkembang menjadi lebih dari satu pengakuan.
Awal mula kasus ini ramai dibicarakan publik terjadi setelah sebuah utas dari akun X bernama “Saa” yang diunggah pada 8 Februari 2026.
Dalam cuitannya, korban menceritakan pengalamannya saat menerima pekerjaan sebagai talent untuk sesi pemotretan dan pembuatan video bagi sebuah brand lokal terkenal yang pemiliknya berinisial M.
Pada awal pekerjaan, korban menyebut semua berjalan normal dan professional, tanpa ada tanda-tanda mencurigakan.
Situasi berubah setelah sesi pemotretan selesai dan korban diajak untuk makan bersama, yang ia anggap sebagai ajakan biasa dalam konteks pekerjaan.
Namun, korban menjelaskan bahwa keadaan mulai terasa tidak aman ketika ia ditinggal berdua dengan pemilik brand tersebut di lokasi pemotretan.
Dari situ, korban mengaku mengalami tindakan yang tidak sesuai dengan persetujuan dan membuatnya merasa sangat terancam.
Dalam utas tersebut, korban menegaskan bahwa ia sudah menyatakan penolakan, merasa takut, dan mengalami trauma mendalam setelah kejadian tersebut.
Ia juga menyampaikan bahwa hingga kini dampak psikologis dari peristiwa itu masih ia rasakan.
Meski demikian, korban menyebut dirinya tidak memiliki bukti kuat dan hanya membawa luka serta ingatan yang sulit dilupakan.
Pengakuan tersebut kemudian memicu reaksi luas dari masyarakat.
Seiring viralnya cerita korban, sejumlah pihak yang memiliki hubungan profesional dengan Mohan Hazian mulai mengambil sikap.
Salah satunya adalah pihak manajemen Thanksinsomnia.
Melalui pernyataan resmi di akun Instagram, manajemen brand tersebut menegaskan bahwa isu yang melibatkan Mohan Hazian adalah persoalan pribadi dan menyatakan bahwa yang bersangkutan sudah tidak lagi terlibat dalam kepemilikan maupun kegiatan operasional brand.
Sejak 9 Februari 2026, seluruh aktivitas yang berkaitan dengan pihak terkait dinonaktifkan.
“Menanggapi isu yang beredar dan melibatkan nama brand Thanksinsomnia, kami dari pihak manajemen ingin menyampaikan klarifikasi secara resmi. Perlu kami tegaskan bahwa isu yang berkaitan dengan saudara Mohan Hazian merupakan masalah pribadi, yang bersangkutan tidak lagi aktif secara hubungan kerja sama dan kepemilikan atas nama brand Thanksinsomnia, baik secara operasional maupun profesional,” terang Manajemen Thanksinsomnia dalam pernyataan resminya.
Di sisi lain, respons juga datang dari Shira Media, sebagai penerbit yang pernah menerbitkan karya Mohan Hazian, mengeluarkan pernyataan sikap resmi.
Dalam pernyataannya, Shira Media menyampaikan keputusan untuk menghentikan seluruh aktivitas komersial yang berkaitan dengan buku karya Mohan Hazian.
“Kami, Shira Media, menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait dugaan kekerasan seksual (KS) yang melibatkan Mohan Hazian, yang karyanya pernah kami terbitkan. Terhitung sejak pernyataan ini diterbitkan, kami memutus seluruh aktivitas komersial terkait buku Mohan Haizan,” jelas pihak Shira Media dalam pernyataan sikap yang diunggah di Instagram.
Keputusan tersebut mencakup penghentian cetak ulang, distribusi, promosi, hingga kerja sama penerbitan di masa depan.
Mereka juga meminta mitra penjualan untuk menarik buku-buku tersebut dari peredaran.
Sikap ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral serta dukungan terhadap proses penanganan kasus yang berpihak pada korban.
Di tengah derasnya reaksi publik dan langkah tegas dari berbagai pihak, Mohan Hazian akhirnya menyampaikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya.
Dalam pernyataan tersebut, ia membuka dengan menyebut dirinya sebagai seorang suami dan ayah, serta meminta waktu untuk mencerna situasi yang terjadi.
Mohan menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang timbul dan mengakui bahwa peristiwa ini telah melukai banyak pihak.
Namun, ia juga secara tegas membantah tuduhan pemerkosaan yang diarahkan kepadanya.
Mohan menyebut bahwa dirinya memang pernah melakukan kesalahan di masa lalu terkait relasi dengan perempuan lain, yang berdampak pada keluarganya, dan mengakui hal tersebut sebagai kekhilafan pribadi yang tidak bisa dibenarkan.
Ia menegaskan bahwa kesalahan tersebut adalah tanggung jawabnya sendiri dan tidak ada kaitannya dengan orang-orang di sekitarnya.
Dalam klarifikasinya, ia juga menyatakan siap menerima berbagai konsekuensi sosial dan profesional yang muncul, termasuk kehilangan kepercayaan dan pekerjaan, sebagai bagian dari proses pembelajaran hidup.
“Semua kesalahan yang terjadi di masa lalu adalah murni kekhilafan saya dengan wanita lain. Namun, kejadian tersebut sudah memberikan impact kepada istri dan anak saya. Itu murni kesalahan yang saya lakukan dan tidak dapat dibenarkan dengan cara apapun, bagaimanapun,” terang Mohan dalam klarifikasinya.
Kasus ini hingga kini masih menjadi perhatian publik dan terus memicu sorotan tajam pada terduga pelaku.
Sejumlah pihak berharap proses penanganan kasus ini dapat berjalan secara transparan, adil, dan berorientasi pada pemulihan korban.
Di sisi lain, masyarakat diharapkan tetap mengedepankan empati terhadap korban dan menciptakan ruang aman bagi penyintas untuk bersuara, sembari tetap mendorong penanganan kasus yang adil dan bertanggung jawab. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva