RADAR JOGJA - Postingan secarik kertas yang ditulis bocah SD untuk mamanya viral di media sosial.
Pesan tulisan tangan berbahasa daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) itu isinya bikin trenyuh.
Anak tersebut berpamitan kepada mamanya agar merelakan kepergiannya.
“KERTAS TII MAMA RETI
MAMA GALO ZEE
MAMA MOLO JA’O
GALO MATA MAE RITA EE MAMA
MAMA JAO GALO MATA
MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE
MOLO MAMA,” isi surat yang ditulis dalam bahasa daerah, melansir pada postingan X @txtdriwarga62.
Surat tersebut jika di terjemahkan maka memiliki makna sebagai berikut,
“SURAT BUAT MAMA RETI
MAMA SAYA PERGI DULU
MAMA RELAKAN SAYA PERGI
JANGAN MENANGIS YA MAMA
MAMA SAYA PERGI
TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI
ATAU MERINDUKAN SAYA
SELAMAT TINGGAL MAMA,” melansir pada postingan X @txtdriwarga62.
Di balik peristiwa itu ternyata ada insiden tragis.
Anak tersebut meregang nyawa dengan cara bunuh diri.
Korban merupakan siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS (10).
Ia masih duduk di bangku kelas IV.
Pada Kamis (29/1/2026), korban ditemukan meninggal dunia di wilayah NTT.
Peristiwa tragis ini diduga berkaitan dengan tekanan yang dialami korban akibat keterbatasan ekonomi, setelah diketahui ia kesulitan membeli buku dan pena yang dibutuhkan untuk sekolah.
Berdasarkan kronologi dari kepolisian, jasad anak laki-laki tersebut ditemukan di sebuah pohon cengkeh yang lokasinya tidak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.
Saat peristiwa itu terjadi, sang nenek diketahui sedang bertamu ke rumah tetangga di sekitar lokasi.
Gregorius Kado, tetangga korban dan neneknya, mengungkapkan bahwa latar belakang keluarga anak tersebut tergolong dalam kondisi yang memprihatinkan.
Situasi tersebut membuat korban lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang nenek dan terpisah dari ibu serta saudara kandungnya.
Menurut Kado, korban juga minim mendapatkan perhatian dari orang tua.
Diketahui, ayah korban telah meninggal dunia saat korban masih berada dalam kandungan ibunya.
Ayah korban yang telah meninggal dunia diketahui merupakan suami ketiga dari ibu korban.
Saat ini, sang ibu harus menanggung kebutuhan hidup lima orang anak dalam kondisi perekonomian yang sangat terbatas.
Sebelum ditemukan meninggal dunia, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena, namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan biaya.
Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), petugas menemukan selembar kertas berisi tulisan tangan yang diduga dibuat oleh korban dan ditujukan kepada sang ibu.
Surat tersebut ditulis menggunakan bahasa daerah, yang pada intinya berisi pesan pamit serta permohonan agar sang ibu merelakan kepergiannya.
Pada bagian akhir tulisan tangan tersebut juga terdapat gambar yang dibuat oleh korban yang menyerupai seorang anak laki-laki sedang menangis dengan tulisan dibawahnya “MOLO MAMA” dengan arti “SELAMAT TINGGAL MAMA.”
Keberadaan tulisan tersebut dibenarkan oleh Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus E Pissort.
Ia menyampaikan bahwa tulisan tangan pada secarik kertas tersebut memiliki kemiripan dengan tulisan korban yang terdapat dalam buku sekolahnya.
Selain itu, pihak kepolisian juga telah meminta keterangan dari tiga orang saksi, yakni Kornelis Dopo (59), Gregorius Kodo (35), dan Rofina Bera (34), yang merupakan warga Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu.
Salah satu saksi, Kornelis, menuturkan bahwa sekitar pukul 11.00 WITA ia hendak mengikat kerbau di sebuah pohon yang berada tidak jauh dari pondok tempat korban dan neneknya tinggal.
Dari kejauhan, ia melihat tubuh korban dalam kondisi tidak wajar.
Menyadari hal tersebut, Kornelis segera berlari meminta pertolongan kepada warga sekitar hingga akhirnya pihak kepolisian datang ke lokasi.
Sementara itu, saksi lainnya, Gregorius dan Rofina, mengaku sempat melihat korban pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WITA sedang duduk sendirian di sebuah bale yang berada di depan pondok.
Keduanya sempat menanyakan keberadaan nenek korban serta alasan mengapa korban tidak berangkat ke sekolah pada hari tersebut.
Menurut pengakuan mereka, korban tampak murung dan sedih, tanpa banyak berbicara.
Kasus yang menimpa YBS turut mendapat perhatian dari Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.
Ia menyampaikan rasa prihatin dan duka cita atas peristiwa tersebut.
Gus Ipul juga menegaskan komitmen Kementerian Sosial untuk memperkuat pendampingan serta pendataan terhadap keluarga rentan, agar tidak ada pihak yang terlewat dan kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Kita perlu memperkuat pendampingan sekaligus pembenahan data. Saya berharap tidak ada lagi keluarga yang luput dari pendataan. Data menjadi hal yang sangat penting agar kita bisa memastikan seluruh keluarga yang membutuhkan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan dapat terjangkau,” ujar Gus Ipul.
Peristiwa tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarga serta masyarakat sekitar, sekaligus kembali menyoroti persoalan kemiskinan ekstrem dan dampaknya terhadap kehidupan anak-anak, khususnya di wilayah pedalaman. (Salwa Caesy)
Editor : Meitika Candra Lantiva