Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Modifikasi Cuaca Dapat Atasi Banjir? Begini Cara Kerja Modifikasi Cuaca Cloud Seeding untuk Atasi Banjir di Jakarta yang Kini Surut Total

Magang Radar Jogja • Senin, 2 Februari 2026 | 12:07 WIB

Photo
Photo
RADAR JOGJA - Banjir yang melanda Jakarta sejak Kamis (22/1) berhasil surut total pada Senin (26/1). Sebelumnya, banjir tersebut terjadi setelah hujan deras lebih dari 150 milimeter (mm) dan kurangnya area resapan dan saluran air dengan kapasitas yang memadai untuk menampung air hujan.

Gubernur Daerah Keistimewaan (DKI) Jakarta Pramono Anung menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi banjir tersebut.

OMC dilakukan dengan memanfaatkan 1.200 pompa dan alat berat untuk mengeruk sungai. Penataan kembali sungai-sungai besar juga dilakukan agar kapasitas aliran sungai kembali optimal.

Penanganan banjir dengan modifikasi cuaca bukan pertama kalinya. Sebelumnya, modifikasi cuaca pernah dilakukan untuk mengatasi banjir di Semarang pada 2024.

Tidak hanya untuk mengatasi banjir, OMC bahkan pernah diterapkan untuk memperpanjang musim hujan pada Perang Vietnam tahun 1967-1972 sebagai taktik perang yang disebut sebagai Operation Popeye.

Lantas, bagaimana cara kerja modifikasi cuaca untuk mengatasi banjir di Jakarta?

OMC yang diterapkan pada penanganan banjir di Jakarta disebut sebagai Cloud Seeding (Indonesia: Penyemaian Awan) untuk mempercepat hujan agar uap air tidak berkumpul lebih besar di awan.

Uap air yang terlalu lama disimpan di dalam awan sewaktu-waktu dapat menyebabkan hujan yang sangat deras dalam waktu yang singkat. Hal tersebut yang kemudian dapat menyebabkan banjir parah.

Maka, Cloud Seeding dilakukan untuk membentuk nuclei, yaitu partikel-partikel kecil dari tetesan air. Proses pembentukan nuclei dinamakan nukleasi kondensasi yang dilakukan dengan menaburkan bahan semai seperti garam (NaCl), perak iodida (Agl), atau bahan lainnya yang mampu menyerap molekul air (higroskopis) ke awan-awan di udara.

Tetapi, Cloud Seeding tidak dapat dilakukan pada semua awan. ‘Aisy dan kawan-kawan (dkk) dalam penelitian yang berjudul “Optimalisasi Metode Penyemaian Awan untuk Meningkatkan Curah Hujan” menjelaskan bahwa Cloud Seeding hanya dapat dilakukan pada awan dengan kandungan uap air yang cukup.

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan World Meteorological Organization (WMO) pada “WMO Statement on Weather Modification” yang mengemukakan bahwa Cloud Seeding tidak dapat menciptakan air yang baru, melainkan mengubah pola hujan dari awan yang sudah mengandung uap air yang cukup atau dengan kata lain memodifikasi proses mikro-fisika dalam awan. Jika tidak ada awan hujan, maka tidak ada pula hujan yang dapat dipercepat prosesnya.

Berdasarkan hal tersebut, hal pertama yang harus dilakukan untuk menerapkan Cloud Seeding adalah menyeleksi awan.

Kemudian, garam atau bahan higroskopis lainnya ditaburkan ke awan-awan tersebut menggunakan pesawat atau generator darat di titik-titik yang menjadi lokasi banjir.

Penyemaian biasanya membutuhkan 2-3 hari atau lebih untuk mengoptimalkan pembentukan titik kondensasi, yaitu di mana uap air akan tumbuh menjadi nuclei. Lebih banyak nuclei yang terbentuk, maka lebih cepat pula tetesan air untuk jatuh sebagai hujan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, Cloud Seeding memaksa hujan turun lebih awal, sehingga intensitas hujan menjadi lebih ringan dan tersebar. Dengan demikian, daya serap drainase, sungai, atau saluran air menjadi lebih terkendali.

Meskipun demikian, TMC atau OMC tidak cukup dalam mengatasi banjir. OMC hanya dilakukan untuk mengatur hujan, bukan menghilangkan air hujan tersebut. Banjir di Jakarta yang terjadi juga menyoroti bagaimana tata kelola dan sistem drainase yang harus diperbaiki secara berkala.

Seperti yang telah dijelaskan di awal, surutnya banjir di Jakarta juga dikarenakan adanya penataan kembali sungai-sungai utama untuk mengoptimalkan aliran sungai. Kini, banjir di Jakarta sudah dinyatakan surut total meskipun di beberapa titik dikabarkan masih tinggi.

Penulis: Salwa Hunafa

Editor : Bahana.
#modifikasi cuaca #Banjir