Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dari Panas Terik ke Hujan Deras: Kenali Dampak Cuaca Ekstrem pada Kesehatan Tubuh

Bahana. • Kamis, 22 Januari 2026 | 13:59 WIB

Ilustrasi Perubahan Cuaca Ekstrem dari Panas ke Hujan (Pinterest)
Ilustrasi Perubahan Cuaca Ekstrem dari Panas ke Hujan (Pinterest)
Belakangan ini, cuaca sedang tidak bisa ditebak. Perubahan cuaca yang drastis ini bukan sekadar ketidaknyamanan biasa, tetapi bisa berdampak serius pada kesehatan.

Tubuh manusia dirancang untuk beradaptasi dengan lingkungan, tetapi perubahan cuaca yang terlalu cepat sering membuat sistem pertahanan tubuh kewalahan.

Ketika suhu berubah dari panas ke dingin atau hujan dalam waktu singkat, tubuh harus bekerja keras untuk menjaga suhu internal tetap stabil.

Sistem kekebalan tubuh menjadi rentan saat proses adaptasi ini berlangsung. Kondisi ini menciptakan celah bagi virus dan bakteri untuk masuk.

Selain itu, perubahan suhu juga memengaruhi pembuluh darah yang akan menyempit atau melebar secara tiba-tiba, memicu berbagai keluhan kesehatan.

Dehidrasi juga sering terjadi, terutama saat cuaca panas. Banyak orang tidak menyadari bahwa tubuh kehilangan banyak cairan melalui keringat.

Ketika hujan tiba-tiba turun dan udara menjadi dingin, tubuh yang sudah kehilangan cairan akan semakin kesulitan mengatur suhunya.

Flu dan batuk adalah keluhan paling umum saat cuaca tidak menentu. Virus lebih mudah menyebar ketika sistem imun sedang melemah akibat tubuh sibuk beradaptasi dengan perubahan suhu.

Gejala lain yang sering dirasakan adalah sakit kepala atau pusing, terutama pada orang yang sensitif terhadap perubahan tekanan udara.

Nyeri sendi dan otot juga kerap dikeluhkan, khususnya bagi yang memiliki riwayat rematik atau asam urat. Udara dingin dan lembap saat hujan bisa memperparah peradangan persendian.

Kemudian, perubahan cuaca memengaruhi sistem pencernaan sehingga gangguan pencernaan seperti diare juga bisa muncul.

Tidak semua orang memiliki ketahanan yang sama terhadap cuaca ekstrem. Anak-anak dan lansia yang paling rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka belum sempurna atau sudah menurun.

Anak-anak sering bermin di luar ruangan tanpa memperhatikan cuaca, sementara lansia memiliki kemampuan adaptasi tubuh yang lebih lambat.

Orang dengan penyakit kronis seperti asma, diabetes, atau gangguan jantung juga perlu ekstra hati-hati.

Perubahan cuaca bisa memicu serangan asma atau memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada.

Menjaga kesehatan di tengah cuaca yang tidak menentu sebenarnya tidak rumit. Pastikan tubuh selalu terhidrasi dengan baik, minimal delapan gelas air putih per hari. pilih pakaian yang sesuai dengan aktivitas dan cuaca.

Saat panas, gunakan pakaian berbahan menyerap keringat. Jika berpotensi hujan, siapkan jaket atau payung.

Istirahat yang cukup antara tujuh hingga delapan jam untuk membantu tubuh memulihkan energi dan memperkuat sistem imun.

Konsumsi makanan bergizi seimbang, terutama yang kaya akan vitamin C dan antioksidan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Hindari perubahan suhu yang terlalu ekstrem dalam waktu singkat. Misalnya, setelah beraktivitas di bawah terik matahari jangan langsung masuk ke ruangan ber-AC dengan suhu dingin. Beri waktu untuk tubuh menyesuaikan diri secara bertahap.

 Penulis:Adzkia Fahdila Khairunisa

Editor : Bahana.
#Cuaca Ekstrem #Hujan #kesehatan tubuh