Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT dilaporkan hilang di lokasi kawasan Maros, Sulawesi Selatan.
Sejumlah warga, melaporkan adanya suara ledakan keras yang memecah kesunyian siang hari.
Diduga ledakan tersebut berasal dari pesawat yang terjatuh di kawasan lereng perbukitan Bulusaraung, lokasi koordinat terakhir pesawat.
Dikutip dari Fajar (JawaPos Group), warga di Lingkungan Panaikang, Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, Hasnah mengaku sempat mendengar bunyi yang menyerupai material terbakar sebelum ledakan terjadi.
"Tadi saya sempat mendengar suara seperti bambu kering yang dibakar mengeluarkan suara (ledakan,red)," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Sabtu (17/1).
Meski tidak melihat jam secara pasti, Hasnah meyakini peristiwa itu terjadi saat ia sedang berada di teras rumah pada siang hari.
Hal senada diungkapkan oleh Ismail, warga lainnya yang menegaskan bahwa suara tersebut bukanlah ledakan biasa.
"Sekitar jam 11.00 Wita tadi saya dengar suara ledakan keras. Dan ini baru pertama kali saya dengar suara ledakan keras sekali, bukan suara ledakan tambang juga," katanya.
Kronologi Detik-detik Pesawat Hilang dari Radar
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, mengonfirmasi bahwa pesawat buatan tahun 2000 yang dipiloti Capt. Andy Dahananto tersebut mulai mengalami kendala saat mendekati wilayah udara Makassar.
Berdasarkan laporan teknis, komunikasi terakhir terjadi saat pesawat sedang dipandu untuk melakukan pendaratan.
"Pada pukul 04.23 UTC, pesawat diarahkan oleh Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar," ujar Lukman, Sabtu (17/1).
Sayangnya, posisi pesawat justru melenceng dari jalur yang seharusnya. Meski petugas ATC sempat memberikan instruksi koreksi, pesawat PK-THT tiba-tiba lenyap dari pantauan radar.
"Setelah penyampaian arahan terakhir oleh ATC, komunikasi dengan pesawat terputus (loss contact)," tambah Lukman.
Status Darurat DETRESFA dan Fokus Pencarian di Pegunungan Maros
Menyikapi hilangnya kontak tersebut, otoritas penerbangan langsung menetapkan status DETRESFA (Distress Phase) atau fase darurat tertinggi. Tim SAR gabungan kini memfokuskan pencarian di area pegunungan kapur Bantimurung yang memiliki medan cukup menantang.
"Jumlah orang di dalam pesawat (Persons on Board/POB) dilaporkan sebanyak 10 orang, terdiri atas 7 awak pesawat dan 3 penumpang," ungkapnya.
Hingga saat ini, penyebab pasti insiden masih dalam penyelidikan. Meskipun jarak pandang dilaporkan normal sekitar 8 kilometer, Ditjen Hubud tetap menunggu data resmi dari BMKG terkait kondisi cuaca mikro di lokasi kejadian.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah meminta seluruh maskapai meningkatkan kewaspadaan melalui penerapan Approach and Landing Accident Reduction (ALAR) Toolkit guna meminimalisir risiko kecelakaan pada fase krusial pendaratan.
Editor : Bahana.