Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Penghargaan Sederhana dari Warga, Mengobati Rindu Keluarga, Cerita Relawan Jogja Bertugas di Lokasi Terisolasi Pasca Banjir Aceh

Agung Dwi Prakoso • Senin, 12 Januari 2026 | 15:10 WIB
(Dokumentasi Relawan MDMC DIY yang bertugas di Aceh)
(Dokumentasi Relawan MDMC DIY yang bertugas di Aceh)

JOGJA - Menderma di saat kondisi sengsara, sederhana namun bermakna. Mungkin kalimat itu yang bisa mewakili perasaan para relawan kemanusiaan Jogja yang bertugas di Aceh. Bentuk penghargaan para korban bencana, mampu menyentuh hati dan menyembuhkan rindu keluarga mereka di Jogja.

Salah seorang relawan dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Muhammad Adil S menceritakan lika-liku dan perasaanya ketika menjadi relawan di Aceh. Terutama ditempatkan di lokasi yang masih terisolasi. Dengan suara telfon yang kerap terputus, ia mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan.

"Sory mas, ini starlink kalau siang mati. Saya harus naik bukit dulu untuk cari sinyal biar bisa telfon," ujarnya dengan nafas terengah-engah, Senin (12/1/2026).

Ia bersama 24 relawan lain dari DIY berangkat menuju Aceh pada tanggal 3 Januari 2026. Dari Jogja menggunakan bus menuju Jakarta, kemudian diteruskan dengan perjalanan udara menuju ke Medan. Mereka beralih maskapai dengan menggunakan Wings yang notabene pesawat kecil untuk menuju ke Takengon.

"Rombongan kami ada dari Tim Kesehatan PKU Gamping dan PKU Boyolali serta Tim Psikososial dari UNISA," bebernya.

Para relawan di sana menangani empat daerah yakni Kekuyang, Bugeara, Bintang Pepara dan Burlah. Diceritakan, kondisi di empat daerah tersebut sampai hari ini masih terisolasi. Para relawan perlu menyeberang secara manual dengan menggunakan tali keling besi melewati sungai Berawang Gajah. Sebab, satu-satunya jembatan sebagai akses utama penyeberangan raib tersapu ganasnya banjir.

"Kami menyebarang menggunakan seling bergelantungan," tandasnya.

Hingga saat ini, lanjutnya, empat desa tersebut masih belum terjamah listrik. Bahkan, air bersih sebagai sumber utama kehidupan masih sulit untuk diakses. Perlu melakukan perjalanan ke desa seberang sepanjang satu kilometer dengan medan terjal untuk menuju sumber mata air.

"Itu sumber mata air yang deres, kalau mau mandi harus ke desa seberang itu," ucap Ketua Pos pelayanan MDMC DIY itu.

Ada beberapa desa yang tidak bisa dihuni seperti Burlah yang telah hanyut tersapu banjir dan gelondongan kayu. Kemudian, warga Bintang Pepara juga diminta untuk mengungsi karena desanya berada di lokasi rawan longsor.

"Kami sebutnya zona merah, pengungsi dari sana dibawa ke bawah ditempatkan di daerah dekat Puskesmas," katanya.

Kendala utama masyarakat dan relawan di sana adalah terbatasnya air, listrik dan juga terputusnya akses akibat jembatan ambruk. Otomatis perputaran ekonomi di wilayah tersebut juga terhenti. Padahal ada sekitar 1.000 warga yang merupakan penduduk di empat desa itu.

Baca Juga: Sudah Usang, Jembatan Penghubung Jalan Ploso-Donomerto Kulon Progo Roboh: Akses Terputus, Warga Memutar Sejauh Lima Kilometer

"Mungkin kalau jembatan sudah nyambung otomatis ekonomi akan berjalan perlahan," jelasnya.

Sejak menjadi relawan kemanusiaan, penempatan di lokasi terisolasi menjadi pengalaman pertama baginya. Cerita unik dan menarik juga ia dapatkan dari perjalananya membantu masyarakan korban bencana alam.

"Di sini termasuk sentra durian, dari pagi sampai malam ada saja masyarakat yang datang untuk memberikan durian kepada kami secara gratis," ujarnya.

Fenomenan itu cukup menyentuh hati para relawan. Sebab, dengan kondisi yang serba terhimpit baik dari sisi ekonomi maupun keadaan lingkungan namun masyarakat masih menjamu para relawan dengan cara sederhana. Mereka berbagi kebahagiaan melalui apa yang mereka punya.

"Salah satu ucapan terimakasih masayrakat untuk kami di sini," imbuhnya.

Dalam melakukan pelayanan, mereka membuka layanan kesehatan baik di Puskesmas, Posko maupun visit ke setiap rumah. Layanan Psikososial juga diadakan sebagai sebuah terapi mental pasca diterpa bencana.

Untuk memperlancar komunikasi dan mobilitas relawan, mereka didampingi dengan warga lokal yang menjadi guide sekaligus penerjemah bahasa daerah. Sebab, banyak warga khususnya yang berusia lansia belum fasih menggunakan Bahasa Indonesia dan masih menggunakan bahasa daerah lokal.

"Bahasanya di sini Gayo, kami agak kesulitan jika tidak didampingi," ujarnya.

Selama di sana, ia selalu rindu keluarga yang ia tinggalkan di rumah. Terlebih, meninggalkan dua anaknya yang masih kecil dan juga istrinya. Namun, karena itu merupakan tugas kemanusiaan, rasa itu tidak ia hiraukan. Istrinya pun juga merupakan seorang relawan dan mengizinkan dirinya untuk berangkat.

"Saya setiap hari telfon dengan anak istri, setiap pagi naik ke bukit untuk telfon sebelum mereka berangkat sekolah," bebernya.

Rencananya, tim medis akan dipulangkan ke Jogja pada tanggal 15 Januari untuk berganti dengan relawan kloter berikutnya. Namun, untuk bagian manajerial kemungkinan akan pulang ke Jogja pada Februari.

"Saya termasuk manajerial jadi satu bulan di sini," katanya. (oso/Agung Dwi Prakoso)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#lokasi bencana #rindu keluarga #banjir aceh #relawan Muhammadiyah