RADAR JOGJA - Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang mengalami dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan.
Musim kemarau umumnya berlangsung pada April hingga Oktober, sementara musim hujan terjadi pada Oktober hingga Maret.
Pada periode Oktober 2025 hingga Maret 2026, Indonesia diprediksi memasuki musim hujan.
Kondisi ini meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit, salah satunya leptospirosis, yakni penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia.
Melansir dari laman Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, leptospirosis merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dan dapat menyerang manusia maupun hewan.
Penyakit ini banyak ditemukan di wilayah tropis dengan curah hujan tinggi, terutama saat terjadi banjir.
Penularannya dapat terjadi melalui paparan urine atau darah dari hewan yang terinfeksi.
Bakteri Leptospira umumnya ditularkan melalui mamalia kecil, terutama hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Selain itu, sejumlah hewan domestik, seperti sapi, babi, dan anjing, juga dapat menjadi pembawa bakteri tersebut.
Sementara penularan pada domba, kambing, kuda, serta kerbau liar tergolong jarang.
Beberapa jenis reptil dan amfibi juga diduga berpotensi membawa bakteri leptospirosis.
Melansir dari Mureks, Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat lonjakan signifikan kasus leptospirosis pada periode Januari–November 2025.
Sepanjang periode tersebut, tercatat sebanyak 453 kasus leptospirosis, dengan 38 diantaranya berujung kematian.
Kasus tertinggi terjadi di Kabupaten Bantul dengan total 227 kasus dan 12 kematian.
Disusul Kabupaten Sleman yang mencatat 118 kasus dengan 11 kematian.
Sementara itu, Kabupaten Kulon Progo melaporkan 49 kasus dan 6 kematian, Kota Yogyakarta sebanyak 32 kasus dengan 8 kematian, serta Kabupaten Gunungkidul mencatat 27 kasus dengan 1 kematian.
Gregorius Anung Trihadi, Kepala Dinas Kesehatan Yogyakarta menjelaskan penyebaran yang terjadi disebabkan karena tikus dan lingkungan yang terkontaminasi hewan tersebut.
Anung menjelaskan perbedaan kondisi antara kota dan desa.
“Kalau di kota kan tidak ada sawah jadi mungkin dari pasar, sampah, atau lainnya. Sementara, kalau di desa bisa dari sawah,” ungkap Anung.
Melihat dari adanya prediksi musim hujan di bulan Oktober 2025 hingga Maret 2026 mendatang maka penting bagi masyarakat untuk mengetahui gejala Leptospirosis.
Melansir pada Alodokter, gejala yang muncul akibat penyakit Leptospirosis ini antara lain:
- Demam tinggi berujung menggigil,
- Sakit kepala,
- Mual, muntah, dan hilang nafsu makan,
- Diare,
- Mata merah,
- Nyeri otot,
- Sakit perut,
- Bintik merah yang tidak hilang saat ditekan.
Kendati demikian, Leptospirosis tersebut dapat dilakukan pencegahannya.
Pencegahan yang dapat dilakukan menggunakan pakaian dan perlengkapan pelindung diri secara lengkap saat berada di lokasi kerja yang berisiko terpapar bakteri penyebab leptospirosis.
Tidak berendam (danau, sungai, kubangan), konsumsi air yang bersih, cuci tangan sebelum makan.
Setelah memegang hewan, cuci buah dan sayur sebelum dimakan dan dimasak, menjaga kebersihan serta memastikan rumah terbebas dari tikus atau hewan yang kerap membawa bakteri, serta lakukan vaksinasi peliharaan dan ternak. (Salwa Casesy)
Editor : Meitika Candra Lantiva