RADAR JOGJA - Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih meninggalkan luka mendalam.
Hingga awal Januari 2026, jumlah korban meninggal dunia kembali bertambah dan kini mencapai 1.167 jiwa, menegaskan skala krisis kemanusiaan yang masih berlangsung di Pulau Sumatera.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, penambahan korban terjadi setelah 10 jenazah kembali ditemukan di Aceh Utara, hasil dari proses pencarian intensif yang dilakukan tim gabungan di lapangan.
Selain korban meninggal, 165 orang hingga kini masih dinyatakan hilang, dengan pencarian yang terus dilakukan meski terkendala medan sulit dan cuaca.
Tak hanya korban jiwa, dampak bencana juga memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka.
Sekitar 257 ribu orang masih bertahan di pengungsian, tersebar di berbagai titik dengan kebutuhan mendesak mulai dari logistik, layanan kesehatan, hingga perlindungan bagi kelompok rentan.
Kerusakan permukiman pun terjadi secara masif.
BNPB mencatat 178.479 unit rumah rusak, dari kategori ringan hingga rusak berat, yang berdampak langsung pada keberlangsungan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.
Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan dampak paling besar.
Jumlah korban meninggal tercatat 540 jiwa, sementara 31 orang masih hilang.
Sebanyak 233.003 warga terpaksa mengungsi, menjadikan Aceh sebagai daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak.
Di Sumatera Utara, korban meninggal mencapai 365 jiwa, dengan 60 orang masih belum ditemukan.
Jumlah pengungsi di provinsi ini tercatat 13.926 orang, tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Sementara itu, Sumatera Barat melaporkan 262 korban meninggal, 74 orang hilang, dan 10.851 warga mengungsi akibat banjir bandang dan longsor yang merusak permukiman serta infrastruktur vital.
BNPB memastikan upaya penanganan darurat terus dilakukan secara terpadu, mulai dari pembersihan kawasan terdampak, perbaikan akses jalan dan jembatan, hingga pembangunan hunian sementara (huntara).
Proses belajar mengajar bagi siswa terdampak juga dijadwalkan kembali dimulai pada semester genap Januari 2026, seiring dengan perbaikan fasilitas pendidikan.
Besarnya jumlah korban dan pengungsi menjadi pengingat keras akan pentingnya penguatan mitigasi bencana di wilayah rawan banjir dan longsor.
Selain percepatan pemulihan pascabencana, penataan ulang kawasan rawan dinilai krusial untuk menekan risiko tragedi serupa terulang di masa depan. (Raka Adichandra)
Editor : Meitika Candra Lantiva