Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Banjir dan Longsor Sibolga–Tapanuli: Ribuan Rumah Terendam, Kerusakan Hutan Dianggap Penyebab Utama

Magang Radar Jogja • Kamis, 27 November 2025 | 22:32 WIB

Photo
Photo
Banjir dan longsor di Sibolga dan Tapanuli Tengah merendam ribuan rumah serta menyebabkan korban jiwa.

Tim SAR gabungan mencatat puluhan orang meninggal, banyak yang luka-luka, dan sejumlah warga masih hilang.

Evakuasi berlangsung sejak dini hari dan terus diperluas karena banyak lokasi masih tertutup lumpur tebal.

Air banjir masuk ke permukiman dengan sangat cepat setelah hujan deras mengguyur kawasan perbukitan.

Material kayu, batu besar, dan lumpur terbawa arus, membuat rumah-rumah di bantaran sungai langsung rusak berat. Warga menyebut arus banjir kali ini jauh lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

BPBD, TNI, dan Polri memindahkan warga ke titik pengungsian yang tersebar di sekolah, balai desa, dan rumah ibadah.

Sebagian warga mengaku kehilangan seluruh harta benda karena rumah mereka tertimbun lumpur. Di beberapa titik, jalur penghubung antarkecamatan putus sehingga bantuan harus dikirim menggunakan perahu karet.

Laporan dari berbagai lembaga lingkungan menyebut penyebab paling serius adalah rusaknya kawasan hulu.

Tutupan hutan di Tapanuli Barat–Tapanuli Tengah dinilai sudah jauh berkurang, sehingga air hujan tidak lagi tertahan tanah dan langsung turun ke area permukiman. Aktivitas penebangan, pembukaan lahan, serta alih fungsi kawasan disebut memperparah banjir kali ini.

Walhi menegaskan bahwa kondisi hutan yang gundul telah meningkatkan risiko banjir bandang selama beberapa tahun terakhir.

Mereka meminta pemerintah melakukan audit menyeluruh terhadap kawasan hutan yang rusak serta meninjau ulang izin-izin aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem.

Di lapangan, petugas menemukan banyak rumah roboh, perahu nelayan terseret ke daratan, serta fasilitas umum yang rusak. Jembatan kecil di beberapa wilayah terputus dan membuat distribusi logistik terhambat.

Warga yang tinggal di lereng bukit diminta tidak kembali ke rumah karena tanah masih labil dan rawan longsor susulan.

Pemerintah daerah mengutamakan pembersihan material longsor, pengiriman makanan siap saji, selimut, obat-obatan, serta pelayanan kesehatan darurat. Pusat data bencana masih menghitung jumlah kerusakan, termasuk sekolah dan tempat usaha yang terdampak.

Sejumlah pakar kebencanaan mengingatkan perlunya reboisasi besar-besaran, penataan ulang kawasan rawan, serta peringatan dini yang lebih efektif.

Mereka menilai banjir di Sibolga–Tapanuli tidak bisa diselesaikan hanya dengan penanganan darurat, tetapi membutuhkan perbaikan lingkungan di hulu.

Warga berharap pemerintah menyediakan relokasi bagi keluarga yang rumahnya hancur total dan mempercepat bantuan logistik, terutama bagi bayi, lansia, serta kelompok rentan lainnya.
Penulis Naela Alfi Syahra

Editor : Bahana.
#sumatera utara #banjir sibolga