Nama KH Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, kembali menjadi sorotan utama. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang terpilih pada 2021 ini tengah menghadapi gelombang polemik internal setelah muncul keputusan Syuriyah PBNU yang memintanya mengundurkan diri atau akan diberhentikan.
Keputusan mengejutkan yang tertuang dalam risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU pada Kamis, 20 November 2025, ini langsung dijawab tegas oleh Gus Yahya, yang menyebutnya sebagai keputusan "sepihak".
Siapakah sosok Gus Yahya dan bagaimana kronologi persoalan internal yang mengguncang organisasi Islam terbesar di Indonesia ini? Berikut adalah profil mendalam dan rangkuman dinamika terbarunya.
Profil Gus Yahya: Dari Pesantren, Istana, hingga Panggung Global
Gus Yahya (lahir 16 Februari 1966) dikenal memiliki latar belakang yang komprehensif, memadukan tradisi pesantren dengan kancah politik dan diplomasi internasional.
1. Pendidikan dan Lingkungan Kiai
-
Pendidikan Tradisional: Menempuh pendidikan dasar di lingkungan pesantren, yaitu Madrasah Al Munawwir, Sewon, Bantul.
-
Pendidikan Akademik: Lulus dari SMA Negeri 1 Yogyakarta dan melanjutkan studi Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM).
-
Aktivis Kampus: Semasa kuliah, ia aktif berorganisasi dan sempat menjabat Ketua Umum Komisariat Fisipol UGM Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta periode 1986-1987.
2. Jejak di Pemerintahan (Gus Dur hingga Jokowi)
Gus Yahya memiliki rekam jejak yang panjang di lingkaran kekuasaan:
-
Juru Bicara Presiden: Ia pernah menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari tahun 1999 hingga 2001.
-
Wantimpres: Pada 31 Mei 2018, Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), menggantikan Hasyim Muzadi.
-
Keluarga Menteri: Meskipun sempat digadang-gadang menjadi Menteri Agama, posisi tersebut pada akhirnya diemban oleh adik kandungnya, Yaqut Cholil Qoumas.
3. Kemenangan Puncak di PBNU
Kiprahnya di NU mencapai puncak pada Muktamar Ke-34 NU di Bandar Lampung (24 Desember 2021). Dalam pemilihan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya berhasil mengalahkan petahana Said Aqil Siroj dengan perolehan 337 suara (Said Aqil Siroj: 210 suara). Kemenangan ini membawanya memimpin PBNU untuk masa khidmat 2022-2027.
4. Diplomat Perdamaian dan Konsep Rahmat
Peran Gus Yahya meluas hingga kancah internasional, berfokus pada diplomasi agama untuk perdamaian.
-
Pendiri Institut: Ia adalah inisiator pendiri Bait ar-Rahmah (2014) di AS, sebuah institut yang fokus pada kajian Islam untuk perdamaian.
-
Pembicara Global: Gus Yahya sering berpidato di forum internasional, termasuk pada forum American Jewish Committee (AJC) di Israel pada Juni 2018.
-
Gagasan Kunci: Ia aktif menyuarakan pentingnya konsep rahmat sebagai solusi konflik dunia dan mendorong penguatan pemahaman agama yang damai.
Kronologi dan Alasan Pemberhentian Ketum PBNU
Dinamika internal yang berujung pada ancaman pemecatan Gus Yahya bermula pada November 2025.
Poin Penting Keputusan Syuriyah
Pada Kamis, 20 November 2025, Rapat Harian Syuriyah PBNU, yang dipimpin oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar, menghasilkan keputusan:
-
Minta Mengundurkan Diri: KH Yahya Cholil Staquf harus mengundurkan diri dalam waktu 3 hari.
-
Ancaman Pemecatan: Jika tidak mengundurkan diri, Syuriyah memutuskan untuk memberhentikan Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU.
Tiga Alasan Utama Keputusan Pemberhentian
Keputusan Syuriyah ini didasarkan pada tiga poin utama, seperti yang tercatat dalam risalah yang beredar:
-
Pelanggaran Nilai dan Qanun Asasi: Diundangnya narasumber yang dinilai terkait dengan jaringan Zionisme Internasional dalam Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) dianggap melanggar nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dan bertentangan dengan Qanun Asasi NU.
-
Pencemaran Nama Baik Organisasi: Pelaksanaan AKN NU tersebut dinilai telah mencemarkan nama baik Perkumpulan di tengah kecaman global terhadap Israel.
-
Tata Kelola Keuangan: Adanya indikasi pelanggaran dalam tata kelola keuangan PBNU terhadap hukum syara', peraturan perundang-undangan, dan Anggaran Rumah Tangga (ART) NU.
Respon Tegas Gus Yahya dan Seruan Rekonsiliasi
Menanggapi keputusan Syuriyah, Gus Yahya langsung mengadakan pertemuan daring dengan ketua-ketua PWNU dan PCNU pada Jumat, 21 November 2025.
Gus Yahya: "Keputusan Sepihak"
Gus Yahya secara tegas menyatakan bahwa keputusan tersebut adalah "keputusan sepihak" karena ia tidak diberi kesempatan klarifikasi terbuka atas persoalan yang dipersoalkan.
Ia menegaskan bahwa menurut AD/ART, pemberhentian tidak hormat harus didasarkan pada pembuktian tindakan mencemarkan nama baik, tindak pidana, atau perlawanan hukum, yang prosesnya wajib memberikan hak klarifikasi kepada yang bersangkutan.
Komitmen Rekonsolidasi:
"Saya sudah menyampaikan komitmen, menyampaikan ikrar, bahwa saya akan mendedikasikan seluruh kemampuan saya untuk melakukan rekonsolidasi PBNU supaya utuh kembali."
Seruan Kiai Daerah
Ketua PWNU dan PCNU turut menyuarakan keprihatinan. Ketua PWNU Sumatera Utara, Marahalim Harahap, meminta Rais Aam dan Ketum melibatkan PWNU dan PCNU dalam menentukan nasib jam'iyah (organisasi).
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyerukan agar seluruh pengurus dan warga NU tetap tenang dan tidak terprovokasi berita yang menyesatkan, menegaskan bahwa ini hanyalah "dinamika organisasi yang sedang berjalan."
Dinamika internal ini menjadi ujian besar bagi kepemimpinan Gus Yahya dan masa depan PBNU, yang posisinya sangat strategis dalam peta politik dan keagamaan Indonesia. Publik kini menanti langkah rekonsolidasi dan perkembangan resmi selanjutnya.
Editor : Jihad Rokhadi