RADAR JOGJA - Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa, tercatat telah mengalami ratusan kali erupsi sejak awal abad ke-19.
Aktivitas vulkaniknya yang nyaris tanpa jeda menjadikan gunung ini sebagai salah satu yang paling aktif di Indonesia.
Di antara rangkaian letusan tersebut, beberapa di antaranya tercatat sebagai yang paling dahsyat, termasuk erupsi besar pada awal 1900-an.
Tidak ada catatan pasti kapan pertama kali Gunung Semeru meletus.
Namun, pada catatan sejarah Gunung Semeru pertama kali meletus pada awal abad 19 tepatnya pada tahun 1818.
Gunung Semeru sempat tertidur selama 11 tahun, dan kembali aktif pada 1829 hingga 20 tahun kemudian.
Dan begitu terus siklusnya hingga saat ini.
Letusan yang paling dahsyat terjadi pada 1900-an awal, tepatnya pada tahun 1909.
Letusan sahsyat ini terjadi pada 29-30 Agustus 1909.
Aliran piroklasik dan lava pada saat itu menghancurkan 38 pemukiman dan 600-800 hektar lahan pertanian yang berada di sekitar Gunung Semeru.
Peristiwa mematikan tersebut merenggut 208 nyawa. Letusan maha dahsyat itu kini dikenang dengan nama De Ramp te Lumajang atau Bencana Lumajang.
Dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa Semeru memiliki pola letusan yang cukup konsisten dari masa ke masa.
Dan memasuki abad ke-20, aktivitas Gunung Semeru terpantau semakin sering:
- 1941-1960: Dalam rentang waktu 19 tahun, Gunung Semeru meletus sebanyak 13 kali. Letusan tertinggi tercatat hingga 1.775 mdpl.
- 1961-1970: Pada rentang 9 tahun ini, Gunung Semer uterus mengeluarkan awan panas. Pada tahun 1961, Semeru mengeluarkan letusan tipe stromboli setinggi 3.009 meter di atas puncaknya.
- 972-1990: Sering terjadi letusan-letusan kecil hingga sedang yang menghasilkan guguran lahar dan abu vulkanik.
- 1992-1994: Dalam rentang waktu 3 tahun ini, semeru tercatat meletus sebanyak 3 kali. Pada tahun 1994 termasuk salah satu letusan yang paling besar, terjadi 9 kali letusan asap putih tebal mencapai 500 meter, 34 kali guguran lava, dan peningkatan intensitas terjadinya gempa vulkanik.
- Di tahun ini juga Gunung Semeru mengeluarkan aliran awan panas guguran hingga 6,8 juta m3. Dan memakan korban 9 orang akibat hanyut oleh lahar panas.
- 2002: terjadi gempa vulkanik dangkal sebanyak 10 kali dan gempa vulkanik dalam sebanyak 57 kali. Selain itu, Gunung Semeru juga mengeluarkan lava pijar dan awan panas dengan jarak 5.000 – 9.000 meter.
- 2004-2008: Tejadi peningkatan aktivitas vulkanik dan terekam beberapa kali letusan.
- 2020: Pada 1 Desember 2020, Gunung Semeru meletus yang memicu awan panas sejauh 11 kilometer, yang berdampak besar kepada masyarakat Lumajang dan sekitarnya.
- 2022: Status Gunung Semeru meningkat dari Level 3 Siaga menjadi Level 4 Awas. PVMBG menghimbau warga untuk menhindari aktivitas dalam radius 8 km dari puncak.
- 2024: Terjadi letusan pada 8 Januari 2924, yang membentuk asap setinggi 2 km. Dampak dari letusan ini membuat aktivitas di Bandara Abdulrachman Saleh Malang dihentikan sementara pada 12 Januari 2024.
- 2025: Pada tahun ini tercatat Gunung Semeru meletus sebanyak 2 kali. Yakni pada 12 Maret dan 19 November 2025. Pada 12 Maret letusan terjadi mencapai 1.00 meter di atas puncak. Dan pada 19 November 2025 terjadi letusan mencapai 2.000 meter di atas puncak.
Pada Rabu, 19 November 2025, Erupsi terjadi dalam waktu yang singkat.
Namun jarak letisan mencapai 2 km di atas puncak Semeru.
Sehubungan dengan ini PVMBG menghimbau agar masyarakat, pendaki, dan wisatawan untuk menghindari dalam radius 8km dari kawah gunung. (Nauralya D)