Longsor ini dipicu oleh hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari sebelumnya, sehingga tanah menjadi tidak stabil dan akhirnya longsor menimbun pemukiman warga.
“Pagi ini, tim SAR gabungan kembali melakukan evakuasi dan pencarian. Masih ada 21 warga yang dalam pencarian”, ujar Camat Majenang Aji Pramono di Cilacap
Berdasarkan laporan dari tim SAR dan badan penanggulangan bencana setempat, tanah longsor ini menimpa sebanyak 12 rumah dan 16 rumah lainnya di kawasan rawan terdampak.
Data terbaru menyebutkan bahwa 2 orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, 21 orang masih hilang dalam pencarian intensif yang dilakukan oleh tim SAR gabungan, dan 5 orang berhasil ditemukan dalam keadaan selamat.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Cilacap Priyo Prayudha Utama mengatakan operasi akan dilanjutkan hingga seluruh korban ditemukan.
“Tim langsung melakukan asesmen dan menyusun rencana pergerakan. Pencarian terus dilakukan meski kondisi medan cukup menantang”, katanya.
Upaya evakuasi mengalami hambatan karena medan yang terjal dan tanah yang masih labil, sehingga penggunaan alat berat terbatas dan pencarian dilakukan secara manual.
Saat ini, warga di zona rawan telah dievakuasi untuk menghindari risiko longsor susulan.
Tim SAR dan relawan terus beroperasi di lapangan, berupaya menemukan warga yang hilang dan memastikan keselamatan seluruh warga yang terdampak.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengimbau warga maupun tim SAR yang sedang bertugas di lokasi untuk selalu waspada akan risiko longsor susulan.
Longsor di Cibeunying merupakan peringatan penting tentang pentingnya sistem peringatan dini dan pengelolaan risiko bencana, terutama di daerah rawan longsor yang sering diguyur hujan ekstrem.
Upaya mitigasi dan kesiapsiagaan harus terus diperkuat untuk mengurangi risiko serta menyelamatkan lebih banyak nyawa di masa depan.
Penulis: Ocha
Editor : Bahana.