Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dampak Angin Baratan, BMKG Prediksi Intensitas Curah Hujan Terus Meninggi Hingga Awal Tahun

Iwan Nurwanto • Rabu, 29 Oktober 2025 | 22:09 WIB
Ilustrasi hujan deras disertai angin kencang.
Ilustrasi hujan deras disertai angin kencang.

JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta meminta masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi.

Pasalnya, intensitas curah hujan diprediksi terus meningkat hingga akhir tahun mendatang.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, dinamika atmosfer dan laut di Indonesia bagian selatan ekuator saat ini masih didominasi oleh angin timuran atau monsun Australia.

Namun memasuki bulan November, angin baratan atau monsun Asia diprediksi mulai aktif.

Menurutnya, kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap curah hujan.

Apalagi Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) berada dalam kondisi netral dan diprediksi bertahan hingga awal tahun mendatang.

Kemudian Dipole Mode Indeks (DMI) berada dalam kategori IOD negatif hingga akhir tahun sebelum beralih ke fase netral di Maret 2026.

Selain itu Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi aktif di wilayah Indonesia.

“Sehingga dalam jangka pendek, prediksi hujan dasarian menunjukkan peningkatan signifikan,” ujar Reni dalam keterangannya, Rabu (29/10/2025).

Adapun untuk curah hujan di pertengahan November diprediksi masuk kriteria menengah hingga sangat tinggi dengan angka 201-500 mm.

Kondisi itu bakal menurun di bulan Desember dengan kriteria hujan menengah hingga tinggi dengan angka 151-500 mm.

Namun perlu diwaspadai pada periode bulan Januari, sebab curah hujan diprediksi kembali mengalami kenaikan cukup signifikan.

Berkisar 201-500 mm atau masuk kriteria menengah sangat tinggi dengan sifat hujan normal.

“Sebab musim hujan diprediksi berlangsung pada bulan Januari hingga Februari 2026,” beber Reni.

Oleh karena itu, Reni meminta agar masyarakat waspada terhadap cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, dan potensi hujan es.

Terlebih selama periode masa pancaroba di bulan Oktober hingga puncak musim hujan mendatang.

Selain itu, masyarakat dan pemerintah daerah juga dihimbau untuk mulai membersihkan saluran air dan melakukan penyesuaian pola tanam bagi sektor pertanian.

Terutama bagi wilayah yang rawan bencana banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

“Kemungkinan musim penghujan berakhir di bulan April,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Nur Hidayat mengaku, sudah mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi berupa hujan dan angin kencang.

Termasuk menyiapkan langkah mitigasi menghadapi bencana luapan air sungai.

“Sebab Kota Jogja merupakan wilayah yang dilintasi aliran sungai, sehingga langkah mitigasi masyarakat bantaran sungai perlu dioptimalkan,” tegas Nur. (inu)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#bmkg yogyakarta #Yogyakarta #Dampak Angin Baratan #BPBD Kota Jogja #ENSO #musim hujan #intensitas curah hujan #Potensi Bencana Hidrometeorologi #prediksi #BMKG