RADAR JOGJA - Kisah pilu datang dari seorang perempuan yang akrab disapa Kak Dessy, sosok yang dikenal di kalangan mahasiswa Universitas Almuslim, Kabupaten Bireuen, Aceh.
Ia dijuluki sebagai “mahasiswa abadi” karena meskipun bukan mahasiswa aktif lagi, ia masih rutin datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan dan mencatat setiap ilmu yang disampaikan dosen.
Namun di balik ketekunannya, tersimpan kisah menyedihkan yang kini viral di media sosial.
Menurut cerita yang beredar, peristiwa itu menjadi pukulan berat bagi Ibu Dessy.
Skripsi yang telah ia kerjakan dengan penuh perjuangan justru diambil oleh teman sendiri, membuatnya gagal wisuda dan mengalami depresi berat.
Impian untuk menyelesaikan studi dan meraih gelar sarjana yang sudah di depan mata pun sirna seketika.
Rasa kecewa, marah, dan putus asa bercampur menjadi satu hingga berdampak pada kondisi psikologisnya.
Sejak saat itu, memori otaknya disebut berhenti pada masa-masa kuliah, membuatnya terus merasa masih menjadi mahasiswa hingga kini.
Melihat kondisinya, pihak kampus Universitas Almuslim memilih untuk memahami keadaan Ibu Dessy.
Ia tetap diberikan izin untuk masuk ke lingkungan kampus, menghadiri kelas, dan berinteraksi dengan mahasiswa lain.
Bagi banyak orang, pemandangan Ibu Dessy yang rajin mencatat di bangku kuliah menjadi simbol ketekunan dan semangat belajar tanpa batas.
Meskipun secara akademis ia sudah tidak terdaftar, semangatnya untuk mencari ilmu tidak pernah padam.
Dari kisah hidupnya, kita bisa belajar bahwa kehilangan sesuatu yang diperjuangkan dengan susah payah memang menjadi pukulan berat bagi siapa pun.
Namun ketekunan Ibu Dessy dalam menghadapi cobaan patut dijadikan teladan.
Di tengah kondisi mental yang tidak mudah, ia tetap menjaga semangat untuk belajar dan berinteraksi, seolah menolak untuk menyerah pada keadaan.
Kisah Ibu Dessy menjadi pengingat bagi dunia pendidikan dan masyarakat luas tentang pentingnya integritas dan empati.
Mengambil karya orang lain bukan hanya bentuk pelanggaran akademik, tetapi juga bisa menghancurkan hidup seseorang.
Di sisi lain, dukungan moral dan pemahaman sosial sangat dibutuhkan bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi trauma seperti yang dialami Ibu Dessy seorang pejuang ilmu yang tetap tegar meski impiannya direnggut oleh tangan orang lain. (Silvia Oktaviani)
Editor : Meitika Candra Lantiva