Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Ambruk Melewati Masa Golden Time, Kini Alat Berat Diterjunkan Proses Evakuasi

Meitika Candra Lantiva • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 00:08 WIB
Proses evakuasi korban santri tertimpa reruntuhan musala di Ponpes Sidoarjo dengan alat berat.
Proses evakuasi korban santri tertimpa reruntuhan musala di Ponpes Sidoarjo dengan alat berat.

RADAR JOGJA — Proses evakuasi reruntuhan Pondok Pesantren Al‑Ghoziny yang ambruk telah memasuki tahap kritis.

Meskipun SAR mengatakan masa golden time dinyatakan telah terlewati, harapan masih digenggam bahwa korban yang belum ditemukan bisa diselamatkan.

Masa golden time yaitu masa dimana 72 jam sejak pertama kali korban tertimbun reruntuhan, terdapat peluang penyelamatan korban hidup lebih besar.

Namun, realita di lapangan memaksa perubahan strategi.  

Kini, pihak keluarga korban menyatakan keikhlasan dan telah menandatangani surat persetujuan penggunaan alat berat untuk membantu membersihkan puing-puing.

Bangunan musala tiga lantai milik Ponpes Al‑Ghoziny di wilayah Buduran, Sidoarjo, roboh pada Senin (29 September 2025) sekitar pukul 15.00 WIB saat para santri sedang menunaikan salat Ashar.

Kejadian ini diduga terkait dengan pekerjaan pengecoran lantai atas, yang menyebabkan beban struktur tidak mampu ditampung oleh tiang penyangga.

Sejumlah laporan menyebut bahwa ambruknya terjadi tiba-tiba disertai suara gemuruh dan getaran seperti guncangan.

Tim SAR gabungan, terdiri dari BASARNAS, BNPB, BPBD, kepolisian, TNI, serta relawan, segera diterjunkan untuk upaya penyelamatan.

Sebanyak 102 orang berhasil dievakuasi dari reruntuhan.


Dari mereka, sebagian berada dalam kondisi luka-luka dan dirawat di berbagai rumah sakit.

Sedikitnya 5 orang telah dinyatakan meninggal dunia.

Sementara puluhan lainnya masih belum ditemukan atau diduga tertimbun.

Laporan berbeda menyebut 38 orang masih terjebak di dalam reruntuhan.


Ada juga informasi yang lebih tinggi menyebut 59 orang belum ditemukan dan tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Salah satu kendala utama adalah kondisi struktur bangunan yang sangat tidak stabil, berpotensi runtuh susulan jika alat berat atau getaran kuat digunakan terlalu cepat.

Basarnas sempat menahan penggunaan alat berat karena khawatir memperburuk kondisi puing-puing dan memicu keruntuhan tambahan.

Namun, setelah penilaian dari tim teknis dan dengan pertimbangan bahwa kemungkinan korban hidup semakin tipis, pemanfaatan alat berat mulai disiapkan.

Tim evakuasi juga telah melakukan proses pencarian dengan menggunakan sound detector atau alat pendeteksi suara.

Penggunaan isyarat verbal dari tim evakuasi juga dilakukan agar jika masih ada korban yang selamat dapat merespon Tim evakuasi dengan cara berteriak atau mengetuk benda disekitarnya sebanyak 3 kali.

Dalam perkembangan terbaru, pihak keluarga korban menyatakan telah menerima kenyataan pahit bahwa peluang menemukan korban dalam keadaan hidup sangat kecil.

Keikhlasan itu diwujudkan dalam bentuk penandatanganan surat persetujuan penggunaan alat berat untuk mempercepat proses pembersihan reruntuhan.

Dengan persetujuan tersebut, tim evakuasi kini diperbolehkan menggunakan alat berat, terutama di titik-titik yang telah dinilai aman secara struktural.

Alat berat diharapkan membantu membuka akses ke lubang-lubang tertutup puing, memudahkan evakuasi korban meninggal serta meminimalkan sisa material yang membahayakan.

Baca Juga: Update Terbaru: Evakuasi Korban Musala Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo Ambruk Penuh Haru, Tim SAR Gabungan Temukan Santri Meninggal dalam Keadaan Sujud

Kepala BNPB, Suharyanto, menyebut bahwa berdasarkan analisis situasi, “tanda kehidupan” pada sebagian titik reruntuhan sudah tidak ditemukan lagi sehingga alat berat bisa diturunkan.

Insiden ini memberi duka mendalam dari berbagai kalangan, termasuk pesantren lain yang melakukan shalat gaib dan tahlil bersama sebagai bentuk solidaritas.

Beberapa pihak menyuarakan kecaman terhadap pemerintah daerah terkait pertanyaan soal izin bangunan (IMB) yang muncul di tengah suasana duka.

GP Ansor, misalnya, menilai bukan saatnya mencari siapa yang salah, melainkan memberikan dukungan konkret.

Pengasuh Ponpes Al‑Ghoziny, KHR Abdus Salam Mujib, meminta semua pihak untuk bersabar dan menyerahkan musibah ini sebagai takdir Allah, sambil berharap agar yang tinggi diganti dengan kebaikan lebih besar. (Alya Amirul Khasanah)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#sidoarjo #musala #SAR #Masa Golden Time #Ponpes Al Khoziny Sidoarjo #evakuasi #alat berat #ambruk