RADAR JOGJA - Kontroversi melingkupi Staf Khusus Presiden bidang Pariwisata, Zita Anjani, setelah mendadak membatalkan jadwalnya sebagai pembicara utama dalam Seminar Magister Pariwisata Universitas Padjadjaran (Unpad) pada 26 Juni 2025 lalu.
Keputusan mendadak itu membuat panitia dan peserta kecewa, sementara publik ramai-ramai melontarkan kritik pedas di media sosial.
Beralasan sibuk dengan agenda yang padat, Zita Anjani justru malah mengunggah kegiatannya yang tengah berolahraga.
Awalnya, Zita dijadwalkan hadir secara langsung.
Namun sehari sebelum acara, formatnya berubah menjadi daring via Zoom.
Tak berhenti di situ, pada hari H seminar, Zita malah sama sekali tidak hadir dengan alasan ada agenda lain yang molor.
Situasi tersebut makin runyam setelah warganet menemukan unggahan Zita di media sosial yang sedang berolahraga di gym, tepat di hari acara berlangsung.
Banyak yang menudingnya lebih mementingkan aktivitas pribadi ketimbang amanah sebagai pembicara akademik.
Zita menyampaikan permohonan maaf melalui akun Instagram pribadinya @zitaanjani.
“Saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang tulus karena tidak dapat hadir dalam acara Seminar Magister Pariwisata UNPAD pada tanggal 26 Juni 2025. Keputusan membatalkan secara mendadak adalah kekeliruan saya dan tim,” ujar Zita putri Ketua Umum Partai PAN Zulkifli Hasan itu.
Dalam kesempatan itu ia juga memberikan klarifikasi terkait unggahannya di waktu yang sama sedang berada di tempat Gym, sehingga menambah kekecewaan banyak pihak.
Stafsus Presiden itu mengaku jika itu adalah unggahan yang tertunda, dan ternyata sangat bisa menimbulkan kesalahpahaman banyak pihak.
"Adapun unggahan saya setelahnya yang menimbulkan salah paham, yakni saat saya berada di gym, adalah late post yang telah dijadwalkan sebelumnya. Saya memahami bagaimana itu bisa memicu persepsi yang keliru, dan untuk itu saya mohon maaf," ucapnya lagi.
Mengakui kesalahan yang telah ia lakukan, Zita tetap terbuka dengan kritik terhadap dirinya dan akan terus membuka ruang pertemuan diskusi untuk memperbaiki dan membangun.
“Saya tidak ingin menutup ruang kritik. Sebaliknya, saya ingin terus membuka ruang pertemuan karena seperti nama program kami, Unlock Indonesia, saya percaya selalu ada ruang terbuka untuk memperbaiki, membangun, dan berjalan bersama,” katanya.
Ia mengakui bahwa pembatalan itu adalah kesalahan komunikasi dari dirinya dan tim, serta meminta maaf kepada Unpad, panitia, dan peserta.
Ia menegaskan unggahan nge-gym yang menuai kritik hanyalah late post atau unggahan lama yang baru dipublikasikan.
Meski begitu, klarifikasi tersebut bukannya meredakan, justru memicu perdebatan baru.
Sebagian publik menilai permintaan maaf Zita terlalu “teratur” hingga muncul dugaan teksnya disusun dengan bantuan AI.
Komentar Netizen
”Sibuk gym sama pilates mbak2 ini. Minta maaf tapi pake chat gpt ????”, di akun Instagram milik @fiqrianto.
”Asistennya harus dipecat, boleh pake Chat gpt tapi harus dipoles, gunakan bahasa manusia jangan gunakan bahasa mesin,” akun instagram @zakipahrul.
”Terima kasih-chatgpt.” akun Instagram @7abrik.
Tak sedikit warganet menilai insiden ini mencoreng profesionalitas seorang pejabat publik yang seharusnya mampu menjaga komitmen pada undangan resmi, apalagi di ranah akademik.
Kasus ini menegaskan betapa rentannya reputasi publik di era digital.
Bagi Zita, satu keputusan batal hadir dan satu unggahan media sosial sudah cukup untuk memicu badai kritik yang panjang. (Chintya Maharani)
Editor : Meitika Candra Lantiva