RADAR JOGJA - Pengalaman menonton di bioskop Tanah Air kini terasa berbeda.
Jika biasanya layar lebar hanya menayangkan iklan komersial dan trailer film, kini penonton mendapat suguhan baru: tayangan video Presiden Prabowo Subianto sebelum film dimulai.
Video berdurasi sekitar dua menit itu berisi pesan singkat Presiden mengenai persatuan, pembangunan, serta ajakan menjaga optimisme di tengah tantangan ekonomi global.
Tayangan ini diputar serentak di seluruh jaringan bioskop besar, mulai dari XXI, CGV, hingga Cinepolis sejak pekan ini.
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengonfirmasi bahwa pemutaran video Presiden merupakan bagian dari program edukasi publik yang bertujuan menyebarkan pesan kenegaraan ke kalangan luas, khususnya anak muda.
Bioskop dipilih karena menjadi ruang populer yang setiap pekannya dikunjungi jutaan penonton dari berbagai daerah.
“Bioskop adalah medium efektif untuk menyampaikan pesan kebangsaan secara langsung dan ringan,” ujar salah satu pejabat Kominfo.
Namun, kebijakan ini memunculkan beragam respons dari masyarakat.
Sebagian penonton mengaku tidak keberatan karena isi pesan dianggap positif dan mengingatkan pentingnya kebersamaan.
“Tidak masalah, toh cuma sebentar dan pesannya bagus,” kata seorang penonton usai menonton film di kawasan Jakarta Selatan.
Sebaliknya, ada pula yang menilai ruang hiburan sebaiknya steril dari konten politik. Mereka khawatir bioskop yang seharusnya menjadi tempat relaksasi justru disisipi pesan bernuansa formal.
“Bioskop kan untuk hiburan, jadi agak janggal kalau tiba-tiba ada video presiden,” ujar penonton lain.
Pengamat komunikasi publik menilai langkah ini sebagai strategi pemerintah memperluas kanal komunikasi dengan masyarakat.
Pesan yang disampaikan melalui medium populer seperti bioskop dinilai bisa menjangkau audiens yang selama ini jarang mengikuti berita politik.
Namun, efektivitasnya akan bergantung pada penerimaan publik.
Jika pesan dianggap relevan dan tidak mengganggu, tayangan tersebut bisa menjadi sarana komunikasi yang kuat.
Dengan kebijakan ini, layar bioskop kini bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga wadah penyampaian pesan kenegaraan.
Pertanyaan selanjutnya, akankah langkah ini menjadi tradisi baru yang diterima masyarakat, atau justru menuai perdebatan lebih panjang? (Ahmad Hatim Wafa)