Ajang olahraga dua tahunan ini mempertandingkan 58 cabang olahraga dengan melibatkan ribuan atlet dari lima kabupaten/kota di DIY.
Upacara pembukaan berlangsung meriah dengan pertunjukan musik dan defile kontingen.
Momen yang paling menyedot perhatian publik terjadi saat 200 penari muda Gunungkidul menampilkan tari kolosal bertajuk Soul of Tayub.
Karya tari ini dipimpin oleh sutradara tari Wiji Pramono (29) seniman asal Semanu, Gunungkidul.
“Tayub itu identitas budaya Gunungkidul. Lewat tarian ini kami ingin menunjukkan jati diri sekaligus menyambut para tamu dan atlet yang datang. Soul of Tayub adalah jiwa Gunungkidul yang kami wujudkan dalam gerak tari,” ujar Wiji saat ditemui di tribun selatan Stadion Handayani pada Selasa malam, (9/9/2025).
Tari kolosal tersebut semakin semarak ketika 200 penari mengajak 200 atlet untuk ikut menari bersama di tengah lapangan.
Suasana hangat tercipta ketika para atlet, meskipun sebagian masih canggung, larut dalam irama musik dan gerak tari tradisional.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyampaikan kebanggaannya atas penyelenggaraan Porda kali ini.
“Kami menyambut kedatangan ribuan atlet dari seluruh DIY dengan kesenian rakyat Tayub, sebagai identitas budaya Gunungkidul. Ini adalah bentuk penghormatan sekaligus kebanggaan sebagai tuan rumah,” katanya.
Sementara itu, Sri Sultan HB X mengapresiasi penyelenggaraan Porda sekaligus penampilan seni budaya khas Gunungkidul.
Ia juga menyebut bahwa Porda kali ini merupakan momentum penting menuju kejayaan olahraga.
“Olahraga bukan hanya soal prestasi, tetapi juga ruang bagi kebudayaan dan tradisi untuk hadir. Penampilan Tayub ini luar biasa, harus terus dijaga sebagai ikon budaya Gunungkidul,” tutur Sultan. (bas)
Editor : Bahana.