RADAR JOGJA - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia.
Namun, di balik kekayaan itu, beberapa tinggal cerita saja.
Sejumlah satwa endemik kita kini terancam punah.
Bahkan ada yang sudah benar-benar hilang dari bumi Nusantara.
1. Harimau
Dulu, Indonesia punya tiga jenis harimau, harimau Jawa, harimau Bali, dan harimau Sumatra.
Sayangnya, harimau Jawa dan Bali dinyatakan punah sejak lama. Sementara harimau Sumatra kini menjadi harapan terakhir.
Itu pun statusnya sudah kritis, dengan jumlah populasi yang terus menurun akibat deforestasi dan perburuan.
2. Orangutan
Tiga jenis orangutan di Indonesia, Kalimantan, Sumatra, dan Tapanuli, semuanya berstatus terancam punah.
Orangutan Tapanuli bahkan disebut sebagai primata paling langka di dunia karena populasinya hanya tersisa sedikit.
Tekanan akibat pembukaan lahan hutan dan pembangunan infrastruktur membuat mereka makin kehilangan rumah.
3. Banteng
Tak hanya satwa besar, seperti harimau dan orangutan, banteng juga menghadapi ancaman. Banteng Ujung Kulon masih bertahan.
Akan tetapi, banteng Leuweung Sancang di Garut sudah jarang terlihat dan diduga punah.
Banteng Kalimantan pun tak aman, apalagi jika laju penggundulan hutan terus berlanjut.
4. Pari
Begitu pula dengan satwa di lautan.
Pari Jawa dinyatakan punah pada 2023 lalu.
Sementara itu, Pari Kei dari Maluku masih belum jelas kondisinya.
Punahnya satwa laut ini jadi peringatan bahwa krisis keanekaragaman hayati bukan hanya terjadi di darat, tapi juga di laut.
Lalu, Apa Artinya untuk Kita?
Hilangnya satwa endemik tak hanya soal “kehilangan wajah-wajah Indonesia”, tapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem.
Saat predator puncak lenyap, rantai makanan bisa terganggu dan pada akhirnya berdampak juga ke manusia.
Karena itu, langkah kecil seperti mendukung upaya konservasi, menjaga hutan, hingga mengurangi produk berbasis satwa liar bisa jadi kontribusi nyata kita.
Indonesia masih punya banyak satwa unik yang patut dijaga.
Jangan sampai generasi mendatang hanya bisa mengenal mereka lewat foto dan cerita. (Jihan Pertiwi)