RADAR JOGJA - Tim Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan lapisan endapan tsunami purba di pesisir selatan Jawa, hanya sekitar dua kilometer dari landasan pacu Bandara Yogyakarta International Airport (YIA).
Endapan tersebut mengandung fosil mikro laut (foraminifera) dan struktur sedimen “bimodal”, yang menjadi bukti bahwa gelombang setinggi lebih dari 15 meter pernah menghantam wilayah tersebut ribuan tahun lalu.
Penemuan ini merupakan bagian dari riset paleotsunami, studi ilmiah untuk melacak peristiwa tsunami kuno melalui lapisan sedimen di tanah dan batuan, yang dilakukan BRIN sejak 2006 hingga 2024.
Salah satu lapisan ditemukan berasal dari peristiwa sekitar 1.800 tahun lalu.
Jejak serupa juga dijumpai di Lebak, Pangandaran, hingga Pacitan, yang mengindikasikan terjadinya tsunami raksasa akibat gempa megathrust bermagnitudo 9 atau lebih, mirip dengan tsunami Aceh 2004.
Lapisan tsunami purba lain berusia sekitar 3.000, 1.000, dan 400 tahun juga berhasil diidentifikasi.
Dikutip dari laman resmi BRIN, menurut Periset Bidang Sedimentologi BRIN, Purna Sulastya Putra, temuan tersebut menunjukkan siklus tsunami raksasa di selatan Jawa terjadi setiap 600–800 tahun.
“Artinya, bukan soal apakah tsunami besar akan terjadi, tapi kapan,” ujarnya.
Dengan proyeksi lebih dari 30 juta penduduk tinggal di pesisir selatan Jawa pada 2030, BRIN menilai ancaman ini harus menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat.
Pada Mei 2025, tim kembali melakukan survei di selatan Kulon Progo, Bantul, dan Gunung Kidul untuk mencari jejak tsunami yang lebih muda.
Hasil penggalian (trenching) di Kulon Progo mengungkap tiga lapisan pasir yang diduga endapan tsunami purba, salah satunya berasal dari peristiwa sekitar 1.800 tahun lalu.
Dua lapisan lainnya mengindikasikan adanya tsunami besar yang terjadi berulang.
Pola sejarah menunjukkan tsunami besar di Indonesia, seperti di Aceh, Pangandaran, dan Lebak, yang memiliki siklus berulang setiap 300 hingga 1.000 tahun.
Di selatan Jawa, gempa megathrust bermagnitudo di atas 9 secara hipotesis berulang rata-rata setiap 675 tahun sekali.
“Siklus berikutnya bisa saja sudah di depan mata,” kata Purna.
Saat ini, sampel sedimen sedang dianalisis menggunakan metode penanggalan radiokarbon di laboratorium luar negeri untuk memastikan waktu kejadian.
BRIN berharap hasil riset ini menjadi dasar kebijakan berbasis data ilmiah dalam memperkuat mitigasi bencana di pesisir selatan Jawa.
Purna juga menyoroti pembangunan infrastruktur strategis, mulai dari bandara, pelabuhan, kawasan industri, hingga destinasi wisata, yang belum sepenuhnya mengintegrasikan risiko tsunami.
“Kalau tidak dirancang dengan mempertimbangkan sejarah bencana, dampaknya akan sangat besar, baik dari sisi korban jiwa maupun kerugian ekonomi,” tegasnya.
Data paleotsunami ini diharapkan menjadi acuan dalam penataan ruang, penetapan zona rawan, penentuan lokasi tempat evakuasi, dan perencanaan jalur evakuasi yang efisien.
BRIN juga mengimbau penguatan edukasi kebencanaan berbasis riset di sekolah, media, dan komunitas lokal.
Purna juga mengingatkan, jika terjadi gempa kuat di dekat pantai, masyarakat harus segera mengungsi ke tempat tinggi tanpa menunggu sirene.
“Tsunami mungkin tak bisa dicegah, tapi korban jiwa dan kerugian bisa kita minimalkan dengan pengetahuan dan kesiapan,” pungkasnya. (Jihan Pertiwi)