Acara Kirab tersebut tentu dihadiri oleh Bupati Pati, Sudewo. Namun yang menjadi sorotan adalah Sudewo yang menaiki kereta kuda bersama sang istri, disoraki oleh massa warga.
Teriakan “Huu!” dan “Turun, turunkan!” menggema di lokasi kirab.
Sorakan-sorakan itu juga ditujukan kepada Plt Sekretaris Desa (Sekda) Pati, Riyoso yang berada dalam satu barisan.
Seolah tak terpancing, Sudewo tetap bersikap ramah dan melambaikan tangan ke arah massa.
Cemoohan warga terhadap butapi dikarenakan imbas dari kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan dan Pedesaan (PBB-P2) sebesar 250 persen.
Banyak warga yang merasa keberatan oleh kenaikan pajak ini.
Sejak diumumkannya kenaikan pajak sebesar 250 persen ini, menuai banyak protes dan penolakan.
Dalam keadaan ekonomi yang seperti saat ini, warga merasa sangat diberatkan oleh kenaikan pajak ini.
Warga menilai pemerintah Pati memutuskan kebijakan ini sepihak tanpa memperhatikan keadaan warganya.
Wakil Ketua Komisi II DPR Tanggapi Isu Kenaikan PBB-P2 Pati
Baca Juga: Gelombang Laut Tinggi Nelayan Pantai Depok Rehat Melaut, Pendapatan Anjlok Hingga 50 persen
Wakil Ketua Komisi II DPR Dede Yusuf menanggapi isu kenaikan PBB-P2 Pati yang melonjak drastis hingga 250 persen.
Dede mengungkapkan, PBB tidak boleh naik secara drastis, harus berkala, dan kenaikan diatas 50 persen adalah tidak wajar.
Wakil Ketua Komisi II DPR mengingatkan, bahwa konsultasi dengan DPRD dan sosialisasi kepada masyarakat adalah langkah penting sebelum kepala daerah mengambil kebijakan.
Dede juga menyebutkan naiknya beban tambahan dapat memicu penurunan tingkat daya beli masyarakat.
Bupati Pati Meminta Maaf
Bupati Pati, Sudewo memberikan pernyataan resmi sekaligus permintaan maaf atas kegaduhan di Pati terkait kenaikan PBB-P2.
Pernyataan tersebut diunggah di akun Instagram resmi Pemkab Pati dan Diskominfo Pati.
Dalam unggahan tersebut, Sudewo mengungkapkan bahwa kebijakan kenaikan PBB ini tidak semuanya 250 persen, hanya maksimal 250 persen.
“Jadi yang di bawah 100 persen, dibawah 50 persen jauh lebih banyak.” Ungkapnya. Bupati Pati juga menyampaikan akan meninjau ulang kebijakan ini.
Sudewo juga mengungkapkan permintaan maafnya atas kericuhan pada hari Selasa (5/8) kemarin.
“Saya, Kami tidak bermaksud untuk melakukan perampasan barang-barang tersebut. Sama sekali tidak bermaksud melakukan perampasan.” Ujarnya. Sudewo juga mengungkapkan, bahwa hanya ingin memindahkan agar tidak mengganggu jalannya Kirab Boyongan dan acara-acara 17 Agustus.
Dalam unggahan tersebut, Bupati Pati tersebut juga mengungkapkan terkait pernyataannya “5.000 silakan, 50.000 massa silakan. Saya tidak menantang rakyat, sama sekali tidak ada maksud menantang rakyat.” Ungkapnya.
Sudewo hanya ingin menyampaikan demo tersebut agar berjalan rakyat, murni bentuk aspirasi rakyat dan tidak ditunggangi pihak-pihak tertentu.
Penulis: Ayu Andayani Saputri