RADAR JOGJA - Morowali dan Bantaeng di Sulawesi menjelma menjadi pusat produksi nikel terbesar dunia sejak tahun 2020.
Ribuan tenaga kerja muda tertarik bekerja di sektor smelter.
Alasannya karena gaji yang tinggi.
Meskipun begitu, mereka dihadapkan dengan jam kerja panjang dan risiko keselamatan tinggi.
Namun, kejayaan industri nikel kini terancam.
Harga nikel global anjlok tajam akibat peralihan teknologi baterai kendaraan listrik (EV) yang mulai meninggalkan nikel.
Ditambah adanya overproduksi smelter dalam negeri.
Dampaknya, empat perusahaan smelter di Sulawesi menghentikan operasi hingga pertengahan 2025.
Salah satunya, PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) di Bantaeng, Sulawesi Selatan.
Perusahaan ini resmi menyetop produksi sejak 15 Juli 2025.
Serikat Buruh Industri Pertambangan dan Energi (SBIPE) mencatat sekitar 1.200 pekerja terdampak dari HNAI dan tiga anak usahanya: PT H Wuzhou, PT H Yatai, dan PT H Yatai II.
Sebelumnya, 350 pekerja telah dirumahkan sejak 1 Juli tanpa surat resmi.
Sementara sisanya menerima pemberitahuan informal pada pertengahan Juli lalu.
Pemerintah daerah melalui Dinas Tenaga Kerja Bantaeng mengonfirmasi penghentian operasi tersebut.
Akan tetapi, belum ada kepastian terkait nasib para pekerja.
Selain HNAI, tiga smelter lain yang menghentikan operasi adalah PT Gunbuster Nickel Industry (GNI), PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI), PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS), dan PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI).
Investor utama di balik perusahaan-perusahaan ini sebagian besar berasal dari Tiongkok.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan.
Mengingat, sebagian besar pekerja kini sulit kembali ke sektor lama, seperti pertanian dan perikanan akibat kerusakan lingkungan oleh tambang.
Meski pihak manajemen HNAI membantah telah melakukan PHK massal dan menyebut kabar tersebut sebagai hoaks, kenyataan di lapangan menunjukkan gejala krisis yang mulai menjalar.
Jika kondisi ini berlanjut, krisis di sektor nikel bukan hanya mengancam industri, tapi juga masa depan ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada tambang dan smelter nikel di Sulawesi. (Jihan Pertiwi)
Editor : Meitika Candra Lantiva