RADAR JOGJA — Sebuah momen berharga bagi dunia konservasi terjadi di kawasan hutan dataran tinggi Sumatera Barat (11/7/2025).
Seekor kelinci belang yang diduga kuat merupakan Nesolagus netscheri atau Kelinci Belang Sumatera berhasil terekam kamera jebak (camera trap) milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Penampakan ini menjadi kabar menggembirakan, mengingat kelinci tersebut adalah satwa langka dan sangat sulit ditemukan di alam liar.
Melansir dari ksdae.menlhk.go.id, elinci belang Sumatera merupakan salah satu mamalia endemik Indonesia yang tergolong sangat langka dan terancam punah.
Ciri khasnya adalah bulu bergaris gelap di bagian punggung, serta tubuh kecil yang lincah.
Satwa ini hidup di hutan pegunungan dengan vegetasi rapat, sehingga jarang terlihat secara langsung.
Sejak pertama kali ditemukan pada 1880-an, dokumentasi visual tentang spesies ini sangat terbatas.
Penampakan terbaru ini terjadi pada akhir Juni 2025.
Lokasi pastinya sengaja dirahasiakan oleh tim BKSDA demi menjaga keamanan habitat dari potensi gangguan.
Kamera dipasang dalam rangka studi keanekaragaman hayati, yang bertujuan untuk memantau spesies langka di wilayah konservasi.
“Ini adalah penemuan penting. Dalam satu dekade terakhir, hanya segelintir rekaman kelinci belang yang berhasil didokumentasikan,” jelas drh Rina Widyaningrum, koordinator lapangan pemantauan satwa liar dari BKSDA Sumbar.
Baca Juga: Ejek Warga Jogja, Instagram Wanita Viral Yang Sebut Warga Jogja SDM Rendah Hilang Bak Ditelan Bumi
Kelinci belang Sumatera masuk dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106 Tahun 2018.
Selain itu, spesies ini tercantum dalam Daftar Merah IUCN dengan status Data Deficient—yang berarti informasi tentang populasi dan persebarannya masih sangat terbatas.
Namun, ancaman nyata seperti perusakan habitat dan perburuan liar tetap menjadi kekhawatiran utama.
Temuan ini tidak hanya memperkuat pentingnya perlindungan kawasan konservasi di Sumatera, tetapi juga memberikan harapan baru bagi riset dan pelestarian spesies endemik Indonesia.
BKSDA bersama mitra konservasi mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian hutan dan tidak memasuki kawasan konservasi tanpa izin.
Perburuan satwa langka seperti kelinci belang juga dilarang keras.
Untuk mendukung upaya konservasi, tim berencana menambah jumlah kamera pemantau serta meningkatkan edukasi kepada warga sekitar hutan.
“Kita tidak bisa melindungi apa yang tidak kita kenal. Penampakan ini membuka peluang baru bagi riset dan konservasi satwa langka Indonesia,” tambah drh Rina.
Sekilas Tentang Kelinci Belang Sumatera (Nesolagus netscheri):
• Termasuk famili Leporidae
• Pertama kali ditemukan pada 1880-an
• Hidup di hutan hujan tropis pegunungan Sumatera bagian barat
• Memakan tumbuhan bawah, daun muda, dan akar-akaran
• Status: sangat langka dan hanya ditemukan di Indonesia
Penemuan langka ini menjadi pengingat betapa kayanya keanekaragaman hayati Indonesia.
Pelestarian habitat alami dan perlindungan terhadap satwa langka bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama.
Dukungan masyarakat sangat dibutuhkan agar generasi mendatang masih bisa mengenal dan menyaksikan kekayaan alam nusantara yang luar biasa ini. (Tri Advent Sipangkar)
Editor : Meitika Candra Lantiva