RADAR JOGJA - Indonesia kembali melangkah maju dalam transformasi energi nasional (2/7/2025).
Melalui kemitraan antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan raksasa teknologi asal Tiongkok, CATL (Contemporary Amperex Technology Co. Limited), sebuah pabrik baterai lithium berskala besar sedang dibangun di Jawa Barat dan ditargetkan mulai beroperasi akhir 2026.
Pabrik ini akan menjadi bagian penting dalam rantai industri baterai dan kendaraan listrik Indonesia.
Dengan kapasitas awal 6,9 gigawatt-hour (GWh) per tahun, fasilitas ini cukup untuk memasok kebutuhan baterai lebih dari 100.000 unit kendaraan listrik tipe SUV dan MPV.
Kehadiran pabrik di kawasan industri terpadu Jawa Barat dengan akses langsung ke pelabuhan dan jalur distribusi nasional memastikan efisiensi logistik dan kesiapan untuk ekspor maupun distribusi domestik.
Proyek ini bukan sekadar investasi, melainkan wujud sinergi antara potensi sumber daya alam Indonesia dan keunggulan teknologi baterai dari Tiongkok.
Dengan nilai investasi lebih dari USD 5 miliar, pabrik ini akan mencakup rantai pasok terintegrasi dari pengolahan bahan mentah, produksi sel baterai, hingga fasilitas daur ulang di masa depan.
Pembangunan fasilitas ini akan memberikan dampak luas bagi perekonomian dan industri nasional:
• Memperkuat industri kendaraan listrik (EV) di Indonesia, mengurangi ketergantungan impor baterai, dan mendukung program elektrifikasi pemerintah menuju 2030.
• Meningkatkan nilai tambah nikel nasional, sejalan dengan kebijakan hilirisasi yang telah dijalankan sejak 2020.
• Mendukung ekspor teknologi ke negara mitra otomotif global, sekaligus membuka peluang perluasan kapasitas hingga 15 GWh untuk menyuplai baterai penyimpanan energi skala besar (ESS), termasuk untuk pembangkit listrik tenaga surya dan jaringan listrik pintar (smart grid).
Jadwal Pembangunan dan Target Operasi:
• Groundbreaking: Awal 2025
• Pembangunan tahap pertama: Pabrik katoda dan sel baterai
• Uji produksi: Kuartal III 2026
• Operasional komersial penuh: Akhir 2026
Proyek ini merupakan bagian dari strategi nasional membangun ekosistem baterai terintegrasi yang mencakup:
• Penambangan & pemurnian nikel di Sulawesi dan Maluku.
• Produksi prekursor & katoda di Jawa Barat.
• Produksi baterai & perakitan EV oleh Hyundai, Wuling, dan pemain lokal.
• Pengembangan pusat daur ulang baterai pada 2027–2028.
“Proyek ini adalah tonggak penting dalam transisi energi Indonesia. Kami bukan hanya ingin menjadi pemasok bahan mentah, tapi pemain utama dalam rantai pasok global,”ungkap Budi Santoso, Direktur Utama IBC, dalam konferensi pers Mei 2025.
Dengan hadirnya pabrik baterai lithium RI–Tiongkok, Indonesia menunjukkan keseriusannya membangun masa depan energi bersih dan ekonomi berbasis teknologi.
Proyek ini tak hanya memperkuat daya saing nasional, tetapi juga membuka peluang kerja baru, meningkatkan ekspor teknologi, dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya strategis negeri sendiri. (Tri Advent Sipangkar)
Editor : Meitika Candra Lantiva