RADAR JOGJA - Sosok pemandu gunung asal Makassar, Agam Rinjani, membagikan kisah dramatis proses evakuasi pendaki asal Brasil, Juliana Marins, yang tewas di Gunung Rinjani.
Dikutip dari YouTube Close The Door Podcast, ia menceritakan kondisi medan ekstrem, minimnya dukungan otoritas, dan bahaya nyata yang dihadapi para relawan di lapangan.
Agam menjelaskan bahwa proses evakuasi dilakukan dalam kondisi cuaca buruk di kawasan Segara Anak.
Ia dan timnya terpaksa bermalam di tengah hujan deras, menghadapi risiko batu-batu besar yang jatuh dari tebing curam.
“Kami tidur dan hujan batu mulai turun… bahkan teman saya hampir kena di wajah,” ujarnya.
Medan yang berbahaya memaksa mereka berjalan satu per satu dengan jarak pandang terbatas hanya dua meter.
Jenazah Juliana dibawa turun menggunakan tandu sederhana dalam situasi yang sangat membahayakan nyawa.
Dalam wawancara, Agam menyinggung minimnya bantuan logistik dan medis dari lembaga terkait.
Seluruh proses evakuasi dilakukan secara mandiri oleh tim relawan, mulai dari perlengkapan hingga makanan dan air minum.
“Kami turun dengan jenazah. Kami bahkan tidak dikasih air putih. Semua disiapkan tim relawan sendiri,” ungkapnya.
Pernyataan ini memicu kritik publik atas lambatnya respon lembaga resmi dalam menangani insiden darurat di kawasan konservasi wisata.
Kisah Agam dengan cepat viral, terutama di Brasil, setelah rekaman evakuasinya tersebar di media sosial.
Warganet menyebutnya sebagai “silent hero” karena keberaniannya mengevakuasi jenazah seorang pendaki asing tanpa fasilitas memadai.
Disebutkan pula bahwa jenazah Juliana pertama kali ditemukan melalui pantauan drone milik warga lokal, bukan oleh tim SAR resmi.
Hal ini menimbulkan pertanyaan publik terhadap efektivitas sistem pencarian dan penyelamatan yang ada.
Terkait informasi penggalangan dana sebesar Rp 1,3 miliar, Agam menegaskan bahwa dirinya tidak pernah membuka atau menerima donasi pribadi.
“Saya tidak pernah membuat rekening donasi, tidak pernah meminta uang. Kalau ada yang pakai nama saya, itu bukan dari saya,” jelasnya dalam podcast tersebut.
Juliana Marins (41), pendaki asal Brasil, dilaporkan hilang pertengahan Juni 2025 saat mendaki Gunung Rinjani.
Jenazahnya ditemukan beberapa hari kemudian di dasar kaldera dalam kondisi mengenaskan.
Autopsi menyebutkan penyebab kematian adalah cedera parah dan hipotermia.
Kesaksian Agam memicu gelombang dukungan dari masyarakat Indonesia dan internasional.
Banyak yang mendesak pemerintah dan otoritas terkait untuk:
• mengevaluasi sistem penanganan darurat di destinasi wisata alam,
• memberikan penghargaan resmi kepada para relawan yang terlibat.
Kisah Agam bukan hanya tentang evakuasi satu pendaki, tetapi cermin dari banyak persoalan di lapangan: prosedur yang tidak siap, relawan yang dibiarkan bertaruh nyawa, dan sistem yang belum berpihak pada keselamatan manusia.
Ia bukan pahlawan karena ingin disebut begitu, ia pahlawan karena tetap memilih bertindak ketika yang lain diam. (Tri Advent Sipangkar)
Editor : Meitika Candra Lantiva