RADAR JOGJA - Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah pendaki melaporkan kesulitan mendapatkan lahan camping yang telah dipesan sebelumnya di beberapa gunung populer di Indonesia.
Akibatnya, banyak dari mereka terpaksa bermalam di puncak gunung, sebuah tindakan yang berisiko tinggi terhadap keselamatan dan melanggar etika pendakian.
Penyebab Utama: Overbooking dan Kurangnya Pengawasan
Salah satu penyebab utama dari masalah ini adalah praktik overbooking oleh pengelola jalur pendakian.
Beberapa pendaki melaporkan bahwa meskipun telah melakukan reservasi dan pembayaran untuk lahan camping, mereka tetap tidak mendapatkan tempat saat tiba di lokasi.
Kurangnya pengawasan dan koordinasi antara pihak pengelola dan petugas di lapangan memperparah situasi ini.
Risiko Tidur di Puncak Gunung
Tidur di puncak gunung sangat tidak disarankan karena beberapa alasan seperti kondisi cuaca ekstrem.
Karena puncak gunung seringkali memiliki suhu yang sangat rendah dan angin kencang, yang dapat menyebabkan hipotermia.
kemudian risiko petir yang mana titik tertinggi dan terbuka lebih rentan terhadap sambaran petir, terutama saat cuaca buruk.
Kerusakan lingkungan akibat aktivitas camping di puncak dapat merusak vegetasi dan ekosistem yang sensitif.
Menurut panduan dari Superlive, pendaki disarankan untuk memilih lokasi camping yang terlindung dari angin dan tidak berada di area terbuka seperti puncak gunung.
Selain itu, penting untuk memastikan tubuh dalam kondisi bugar dan menggunakan perlengkapan yang sesuai untuk menghadapi kondisi ekstrem di gunung.
Komunitas pendaki dan pecinta alam menyuarakan keprihatinan mereka terhadap situasi ini.
Mereka mendesak pengelola jalur pendakian untuk memperbaiki sistem reservasi dan memastikan bahwa lahan camping yang telah dipesan tersedia bagi pendaki.
Selain itu, edukasi mengenai etika pendakian dan risiko tidur di puncak gunung perlu ditingkatkan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva