RADAR JOGJA - Varian baru COVID-19 bernama NB.1.8.1 tengah menyebar cepat di Asia, khususnya di China, India, dan Thailand.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan varian ini sebagai "variant under monitoring" karena peningkatan prevalensinya secara global.
Data terbaru menunjukkan bahwa NB.1.8.1 menyumbang 10,7% dari sekuens COVID-19 global pada akhir April 2025, meningkat dari 2,5% pada bulan sebelumnya.
China dan Hongkong: NB.1.8.1 menjadi varian dominan, menyebabkan lonjakan rawat inap dan kunjungan ke unit gawat darurat.
India: Kasus aktif meningkat lima kali lipat menjadi lebih dari 2.700 pada akhir Mei 2025.
Meskipun sebagian besar kasus bersifat ringan, ada peningkatan rawat inap di antara kelompok rentan.
Thailand: Melaporkan lebih dari 257.000 kasus dan 52 kematian terkait varian ini, mendorong otoritas kesehatan untuk mengeluarkan imbauan penggunaan masker, menjaga kebersihan tangan, dan menerima vaksinasi booster.
Penyebaran Global
Varian NB.1.8.1 telah terdeteksi di 22 negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara Eropa.
Di Australia, varian ini ditemukan di hampir seluruh wilayah, dengan dominasi di negara bagian Victoria dan melalui pengawasan air limbah di Perth.
Gejala NB.1.8.1 mirip dengan varian Omicron lainnya, termasuk sakit tenggorokan, demam ringan, kelelahan, dan gejala gastrointestinal seperti mual dan diare.
WHO menyatakan bahwa varian ini tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan varian sebelumnya, dan vaksin yang ada tetap efektif dalam mencegah penyakit parah.
Situasi di Indonesia
Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai keberadaan varian NB.1.8.1 di Indonesia.
Namun, mengingat kedekatan geografis dan tingginya mobilitas antarnegara di Asia Tenggara, potensi masuknya varian ini ke Indonesia tetap ada.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, menjaga protokol kesehatan, dan mengikuti perkembangan informasi dari otoritas kesehatan setempat.
WHO merekomendasikan negara-negara untuk meningkatkan pengawasan genomik, melakukan uji netralisasi, dan memantau indikator keparahan serta dampak terhadap efektivitas vaksin.
Langkah-langkah ini penting untuk mengantisipasi penyebaran varian NB.1.8.1 dan varian lainnya di masa mendatang. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva