RADAR JOGJA - Belakangan ini, jagat media sosial dihebohkan dengan kemunculan "sandal jepit goreng" yang dijual di sebuah warung gorengan.
Penampakan sandal jepit yang dibalut tepung krispi layaknya gorengan biasa ini sontak menarik perhatian warganet.
Namun, apakah benar-benar ada orang yang menggoreng dan menjual sandal jepit untuk dikonsumsi?
Asal-usul Viral "Sandal Jepit Goreng"
Fenomena ini beredar luas di media sosial salah satunya diunggah akun Facebook Elis Xiling.
Akun tersebut membagikan video perempuan penjual gorengan berbentuk sandal jepit.
dalam video berdurasi 9 detik itu juga memperlihatkan beberapa pembeli yang mengantri gorengan.
Bukan hanya itu, unggahan foto yang serupa juga di unggah akun Facebook
Joe Mardi Scania yang membagikan foto sebuah gerobak gorengan dengan spanduk bertuliskan "Sandal Jepit Goreng" sehargartifical intelegencea Rp 10.000.
Dalam foto tersebut, terlihat sandal jepit yang digoreng dan dibalut tepung, menggantung di gerobak layaknya gorengan biasa.
Unggahan ini pun menuai beragam komentar dari warganet, mulai dari yang heran hingga menganggapnya sebagai lelucon semata.
Baca Juga: Polemik Ijazah Jokowi, Beda Antara Otentik dan Identik
Apakah Terbuat dari Sandal Asli?
Meskipun tampilannya menyerupai sandal jepit yang digoreng, tidak ada indikasi bahwa produk ini benar-benar dimaksudkan untuk dikonsumsi.
Video-video tersebut diduga dihasilkan dari Artificial Intelligence (AI).
Dengan tujuan untuk menciptakan humor atau gimik pemasaran yang bertujuan menarik perhatian publik.
Tidak ada laporan resmi atau bukti yang menunjukkan bahwa "sandal jepit goreng" ini benar-benar dijual sebagai makanan yang dapat dimakan.
Kreativitas dalam Dunia Kuliner
Fenomena seperti "sandal jepit goreng" menunjukkan bagaimana kreativitas dan humor dapat digunakan dalam dunia kuliner yang dikemas dan dihasilkan melalui kecerdasan teknologi digital, untuk menarik perhatian.
Meskipun tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi, ide-ide unik seperti ini dapat menjadi strategi pemasaran yang efektif, terutama di era media sosial di mana konten yang menarik dan lucu dapat dengan cepat menjadi viral.
Kendati begitu, masyarakat disarankan agar tidak mudah termakan konten. Lantaran maraknya konten yang menggemparkan, namun sesungguhnya tidak ada di dunia nyata. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva