Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mundur dari Jabatannya, Pernyataan Kontroversial Hasan Nasbi Soal Teror Kepala Babi: Antara Canda dan Krisis Etika Komunikasi Pemerintah

Meitika Candra Lantiva • Senin, 5 Mei 2025 | 18:25 WIB
Hasan Nasbi mundur dari jabatannya sebagai Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO RI).
Hasan Nasbi mundur dari jabatannya sebagai Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO RI).

RADAR JOGJA - Hasan Nasbi mundur dari jabatannya sebagai Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO).

Hal itu disampaikan hasan yang diumumkan secara publik pada 29 April 2025.

Bahwa pada 21 April 2025 merupakan akhir dari ketugasannya.

Mundurnya hasan dari jabatannya itu menandai babak baru dalam dinamika komunikasi pemerintah Indonesia.

Langkah ini diambil di tengah sorotan tajam terhadap pernyataannya yang kontroversial terkait teror pengiriman kepala babi ke kantor redaksi Tempo, yang dianggap menyinggung etika dan kebebasan pers.

Dalam pernyataan yang disampaikan pada 21 Maret 2025, Hasan Nasbi menanggapi insiden tersebut dengan mengatakan, "Sudah dimasak saja", merujuk pada kepala babi yang dikirimkan kepada jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana.

Pernyataan ini menuai kritik luas dari berbagai kalangan, termasuk Koalisi Masyarakat Sipil, yang menilai respons tersebut tidak berempati dan melanggar prinsip kebebasan pers.

Mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi posisi Hasan Nasbi sebagai Kepala PCO.

Wakil Ketua Komisi XIII DPR, Andreas Hugo Pareira, juga mengecam pernyataan Hasan Nasbi, menyebutnya sebagai "arogan yang berbau penghinaan terhadap media" dan tidak pantas diucapkan oleh pejabat negara.

Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, menilai pernyataan tersebut sebagai penyepelean terhadap harkat hidup manusia dan menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah terhadap demokrasi dan kebebasan sipil.

Hasan Nasbi kemudian mengklarifikasi bahwa pernyataannya dimaksudkan sebagai bentuk dukungan terhadap sikap santai jurnalis Tempo dalam menghadapi teror tersebut.

Ia menyatakan bahwa respons seperti itu adalah cara efektif untuk menggagalkan tujuan utama peneror, yakni menciptakan ketakutan.

Namun, klarifikasi tersebut tidak meredam kritik publik.

Koalisi Masyarakat Sipil tetap menilai bahwa pernyataan Hasan Nasbi menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah terhadap demokrasi dan kebebasan sipil, serta mendesak Presiden Prabowo untuk meninjau kembali posisi Hasan Nasbi.

Dalam surat pengunduran dirinya, Hasan Nasbi menyampaikan bahwa keputusannya adalah hasil pertimbangan matang dan bertujuan untuk kebaikan komunikasi pemerintah di masa mendatang.

Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo dan memohon maaf jika belum bekerja sesuai harapan.

Pengunduran diri Hasan Nasbi menandai perubahan signifikan dalam struktur komunikasi pemerintah di era Prabowo.

Kontroversi yang ia hadapi, terutama pernyataannya terkait teror kepala babi, tampaknya memengaruhi keputusannya, meskipun ia tidak menyebutkan secara eksplisit.

Spekulasi mengenai pengganti menunjukkan kebutuhan akan figur yang lebih mampu menangani komunikasi pemerintah dengan empati dan efektivitas.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya sensitivitas dan empati dalam komunikasi publik, terutama ketika menyangkut isu-isu yang berkaitan dengan kebebasan pers dan keamanan jurnalis.

Pemerintah diharapkan dapat mengambil pelajaran dari insiden ini untuk memperkuat komitmen terhadap demokrasi dan kebebasan sipil di Indonesia. (Affan Yunas Hakim)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#pernyataan kontroversial #Tempo #hasan nasbi #kantor redaksi Tempo #teror kepala babi #Krisis Etika Komunikasi Pemerintah #Hasan Nasbi Mengundurkan Diri #canda