RADAR JOGJA – Rencana Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, untuk mengirim siswa bermasalah ke barak militer menuai kritik tajam dari sutradara ternama, Joko Anwar.
Melalui akun X, pada 28 April 2025, Joko menilai pendekatan tersebut tidak menyentuh akar permasalahan perilaku anak.
Joko Anwar dalam cuitannya mengatakan upaya Dedi Mulyadi dalam mengatasi masalah kenakalan dinilai kurang tepat.
"Kang @DediMulyadi71, mengirim anak-anak yang ‘bermasalah’ ke barak militer atau institusi yang mengajarkan kedisiplinan dengan kepatuhan bukan solusi yang tepat. Karena ini tidak membuat kita lebih memahami akar masalah perilaku anak," tulis Joko Anwar.
Ia menekankan pentingnya pendekatan yang lebih empatik, seperti pemahaman emosi, penyembuhan trauma, dan bimbingan personal, dibandingkan sekadar menanamkan kepatuhan melalui disiplin militer.
Sebagai tambahan, Joko merekomendasikan filmnya, Pengepungan di Bukit Duri, yang menggambarkan isu-isu sosial dan psikologis di lingkungan sekolah.
Film ini mengisahkan Edwin, seorang guru yang menghadapi tantangan dalam membina siswa-siswa bermasalah di SMA Duri, Jakarta.
Melalui karakter ini, Joko ingin menunjukkan bahwa pendekatan empatik lebih efektif dalam menangani perilaku remaja.
Rencana Dedi Mulyadi sendiri akan mulai dilaksanakan pada 2 Mei 2025, dengan mengirim siswa bermasalah ke barak militer selama enam bulan.
Program ini bertujuan untuk membentuk karakter dan kedisiplinan siswa melalui kerjasama dengan TNI dan Polri.
Siswa yang menjadi prioritas adalah mereka yang sulit dibina atau terindikasi terlibat dalam pergaulan bebas maupun tindakan kriminal.
Perdebatan ini mencerminkan perbedaan pandangan dalam menangani perilaku remaja.
Sementara Dedi Mulyadi memilih pendekatan disiplin militer, Joko Anwar dan pendukungnya menekankan pentingnya pemahaman emosional dan dukungan psikologis.
Diskusi ini diharapkan dapat membuka ruang bagi pendekatan yang lebih holistik dalam pendidikan karakter anak-anak Indonesia. (Affan Yunas Hakim)
Editor : Meitika Candra Lantiva