RADAR JOGJA - Dedi Mulyadi pernah mengalami beberapa kontroversi dan blunder selama menjabat sebagai Bupati Purwakarta (2008–2018).
Dia sempat mencalonkan diri di Pilgub Jabar 2018, tapi kalah dari Ridwan Kamil.
1. Polemik Simbol dan Tradisi Sunda
Dedi sering mempromosikan budaya Sunda dalam berbagai acara, seperti mewajibkan PNS berpakaian adat Sunda.
Namun, banyak yang mengkritik langkahnya karena dianggap berlebihan dan mencampuradukkan budaya dengan pemerintahan formal.
Ada yang menilai, pameran budaya itu terlalu seremonial tanpa menyentuh substansi kesejahteraan rakyat.
2. Konflik dengan Ormas Agama
Tahun 2016, Dedi sempat diprotes keras oleh sekelompok ormas Islam karena pemasangan patung-patung Sunda (seperti patung Arjuna dan Ghatotkaca) di ruang-ruang publik.
Mereka menuduh Dedi memuja berhala, meskipun Dedi menegaskan bahwa itu hanya bentuk pelestarian budaya.
Isu ini sempat memanas dan menyeretnya ke laporan hukum, walau akhirnya tidak sampai ke meja hijau.
3. Isu Pencitraan dan Populisme
Beberapa pengamat menilai Dedi sering melakukan aksi pencitraan berlebihan, seperti terlalu sering tampil di media saat memberi bantuan sosial atau kegiatan sosial lain.
Bahkan sempat muncul kritik kalau beberapa programnya lebih menonjolkan citra personal daripada dampak nyata jangka panjang.
4. Tuduhan Nepotisme
Di akhir masa jabatannya, ada suara-suara yang menuduhnya mencoba membangun dinasti politik di Purwakarta, termasuk mendorong keluarganya untuk mencalonkan diri di jabatan strategis.
Meski tuduhan itu tidak terbukti secara hukum, sentimen negatif tetap sempat berkembang di kalangan masyarakat lokal. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva