Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dihujat Warganet, Dedi Mulyadi Viral Gara-gara Tanggapan ‘Miskin Tapi Jangan Sok Kaya’ Saat Berdebat Dengan Siswi SMA Aura Cinta

Meitika Candra Lantiva • Senin, 28 April 2025 | 21:09 WIB
Aura Cinta, siswi SMA yang mengkritik Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat membahas soal peniadaan wisuda di sekolah untuk menghemat pengeluaran orang tua.
Aura Cinta, siswi SMA yang mengkritik Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat membahas soal peniadaan wisuda di sekolah untuk menghemat pengeluaran orang tua.

RADAR JOGJA - Sebuah video yang beredar luas di media sosial baru-baru ini telah memicu perdebatan publik setelah Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, memberikan tanggapan kontroversial terhadap permintaan seorang siswi SMA yang terdampak penggusuran di Bekasi.

Video yang diunggah pada 26 April 2025 melalui kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, menampilkan percakapan antara Gubernur Dedi Mulyadi dan Aura Cinta, seorang siswi SMA 1 Cikarang Utara yang baru saja kehilangan tempat tinggal akibat penggusuran.

Dalam percakapan tersebut, Aura menyampaikan harapannya agar acara wisuda sekolah tetap dilaksanakan meskipun biaya yang diperlukan mencapai Rp 1,2 juta.

Ia beralasan bahwa acara wisuda merupakan momen penting untuk mengenang masa-masa bersama teman sekolahnya.

Namun, tanggapan Dedi Mulyadi menjadi sorotan setelah ia merespons permintaan Aura dengan kalimat yang dianggap kontroversial.

“Anda miskin, tapi jangan sok kaya,” kata Dedi.

Dia menyarankan agar uang yang seharusnya digunakan untuk acara wisuda itu lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih mendesak, seperti menyewa rumah atau menabung untuk masa depan.

“Tinggal aja di bantaran sungai, kenapa bergaya hidup seperti orang kaya?,” protes Dedi terhadap Aura.

Aura juga mengungkapkan keinginannya agar proses penggusuran tempat tinggalnya dilakukan dengan pendekatan musyawarah dan tidak secara tiba-tiba dengan kehadiran Satpol PP.

Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan di platform media sosial X (Twitter), dengan warganet terbagi menjadi dua kubu.

Sebagian sepakat dengan pendapat Dedi yang menilai bahwa pengeluaran sebesar Rp 1,2 juta untuk wisuda tidak sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga yang tengah mengalami kesulitan.

Sementara tak sedikit juga mengecam Dedi karena dinilai kurang empatik terhadap situasi yang dihadapi oleh Aura.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat itu dikenal sering mengkritik kebijakan sekolah yang dianggapnya tidak perlu, seperti kegiatan wisuda dan study tour.

Pada Februari 2025 lalu, ia bahkan memecat kepala sekolah SMAN 6 Depok setelah sekolah tersebut tetap mengadakan kegiatan study tour meskipun bertentangan dengan surat edaran gubernur yang melarang kegiatan serupa.

Dedi menilai bahwa kegiatan semacam itu hanya membebani orang tua siswa, terutama yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.

Berdasarkan pernyataan Dedi kepada Aura, beberapa pihak menganggap bahwa sikap Dedi terlalu fokus pada aspek ekonomi, sementara kurang memperhatikan nilai-nilai sosial yang seharusnya menjadi bagian dari pendidikan.

Banyak yang mengkritik sikapnya yang dinilai kurang empatik.

Reaksi warganet di media sosial semakin memanas setelah video tersebut viral.

Beberapa pengguna seperti @ratu7indonesia2 mengkritik tanggapan Dedi yang dinilai tidak pantas.

“Alah, kagak ada etika lu @DediMulyadi71, ngedebat bocah di depan umum, ngatain miskin jangan sok kaya. Bukan gitu caranya ngasih contoh ke rakyat, cari muka lu? Hebat lu begitu?,” tulis @ratu7indonesia2.

Beberapa warganet juga mengapreasiasi keberanian Aura dalam menyuarakan aspirasinya.

Terutama agar proses penggusuran tempat tinggalnya dilakukan dengan pendekatan musyawarah, tidak secara tiba-tiba dengan kehadiran Satpol PP.

“Anak sekecil itu berkelahi dengan seorang dewasa, politisi dan saat ini punya power..” tulis @ivanazhar1.

“Apakah anak anda bisa setenang itu? Jangankan menghadapi Gubernur, dipanggil guru BP aja pasti udah panas dingin.. Atau anda sendiri, misalnya dipojokan sebagai orang biasa dan miskin pulak, bisa gak setenang itu berdebat dengan yang punya kuasa? Jangankan berdebat dengan Gubernur, mungkin sama RT aja udah ciut duluan...,” tambahnya.

Namun, ada juga yang mendukung Dedi, seperti yang disampaikan oleh akun @RnaReii, yang menilai bahwa biaya wisuda sebesar Rp 1 juta memang tergolong tinggi dan tidak sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga yang baru saja kehilangan tempat tinggal.

“La gimanaa, itu si anak secara sadar bilang sendiri kalau mereka miskin, tapi minta perpisahan tetep diadakan, dengan biaya 1 juta 'doang'. Helloo, 1 juta banyak loh. Gak relate banget sama keadaan ekonominya,” tulis @RnaReii.

Tanggapan terhadap sikap Dedi Mulyadi semakin memanas di media sosial setelah video tersebut viral, memicu perdebatan mengenai bagaimana kebijakan pemerintah seharusnya menciptakan ruang dialog yang konstruktif dalam menangani masalah sosial, seperti penggusuran dan pendidikan. (Fadel Muhammad)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Kang Dedi #dedi mulyadi #siswi SMA 1 Cikarang Utara #reaksi warganet #Aura Cinta #terdampak penggusuran di Bekasi #Gubernur Jawa Barat