RADAR JOGJA - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengumumkan rencana ambisius mereaktivasi 12 jalur kereta api nonaktif di provinsinya dengan anggaran mencapai Rp 20 triliun.
Langkah ini bertujuan untuk mengurangi kemacetan, meningkatkan konektivitas, dan mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di wilayah tersebut.
"Kereta api bisa mendukung pariwisata karena sifatnya yang massal dan antimacet," ujar Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya moda transportasi ini dalam mobilisasi masyarakat.
Rencana reaktivasi mencakup jalur-jalur strategis seperti Banjar-Cijulang, Cibatu-Garut-Cikajang, Rancaekek-Tanjungsari, Cipatat-Padalarang, dan Cikudapateuh (Bandung)-Ciwidey.
Jalur Banjar-Pangandaran menjadi prioritas utama dengan proyeksi anggaran sebesar Rp 3,2 triliun, dianggap paling rasional untuk tahap awal.
Proyek ini mendapat dukungan dari Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, menyatakan dukungannya terhadap reaktivasi jalur-jalur kereta di Jawa Barat sebagai upaya memacu pertumbuhan ekonomi dan pariwisata daerah.
Sementara itu, PT KAI siap mendukung dengan mengembalikan aset-aset yang dikelola untuk kepentingan reaktivasi ini.
Meskipun demikian, proyek ini menghadapi tantangan, terutama terkait anggaran dan koordinasi antar pemerintah.
Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa reaktivasi jalur kereta api memerlukan perencanaan dan pengelolaan yang matang untuk menghindari keterbatasan anggaran yang dapat menghambat pelaksanaan proyek.
Dengan dukungan dari berbagai pihak dan perencanaan yang matang, reaktivasi jalur kereta api ini diharapkan dapat membawa perubahan signifikan dalam sistem transportasi dan pariwisata di Jawa Barat, sejalan dengan visi Dedi Mulyadi untuk menjadikan provinsi ini lebih terhubung dan berkembang. (Affan Yunas Hakim)
Editor : Meitika Candra Lantiva