RADAR JOGJA - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, meluncurkan program kontroversial dengan melibatkan TNI Polri dalam pembinaan siswa bermasalah.
Program ini bertujuan untuk membentuk karakter dan kedisiplinan remaja melalui pendekatan ala militer.
Latar Belakang Program
Dedi Mulyadi mengungkapkan bahwa banyak orang tua merasa kewalahan menghadapi anak-anak mereka yang terlibat dalam perilaku negatif seperti bolos sekolah, tawuran, konsumsi alkohol, dan melawan orang tua.
Ia menilai bahwa pendekatan konvensional tidak lagi efektif dalam menangani masalah ini.
Oleh karena itu, ia mengusulkan program pembinaan ala militer sebagai solusi alternatif.
Implementasi Program
Program ini direncanakan akan dimulai pada Mei 2025 dan berlangsung selama enam bulan hingga satu tahun.
Remaja yang terlibat akan dikirim ke fasilitas militer untuk menjalani pelatihan yang mencakup baris-berbaris, kerja fisik, dan pembinaan mental.
Tujuannya adalah untuk membentuk karakter yang disiplin, bertanggung jawab, dan menghargai orang tua serta lingkungan sekitar.
"Orang tua cukup telepon tentara, nanti dibawa anaknya dimasukin ke komplek militer, disuruh macul, disuruh manggul, baris berbaris selama enam bulan, setelah itu baru dipulangkan," kata Dedi Mulyadi.
Inspirasi dari Tiongkok
Dedi Mulyadi menyebut bahwa program ini terinspirasi dari pendekatan serupa yang diterapkan di Tiongkok, di mana remaja bermasalah dibina melalui pelatihan militer untuk membentuk karakter dan kedisiplinan.
Ia berharap metode ini dapat memberikan dampak positif bagi remaja di Jawa Barat.
Kontroversi dan Tanggapan Publik
Meskipun program ini mendapat dukungan dari beberapa pihak, terutama orang tua yang merasa kewalahan, namun juga menuai kritik.
Beberapa pihak mempertanyakan efektivitas pendekatan militer dalam menangani kenakalan remaja dan menyoroti perlunya pendekatan yang lebih holistik, termasuk aspek psikologis dan sosial.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa program ini bersifat sukarela dan hanya diperuntukkan bagi remaja yang tidak dapat ditangani oleh orang tua mereka.
Ia juga menyatakan bahwa pendekatan ini akan dikombinasikan dengan metode lain, seperti pendekatan psikologis dan sosiologis, untuk memastikan hasil yang optimal. (Adinda Fatimatuzzahra)
Editor : Meitika Candra Lantiva