RADAR JOGJA - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengumumkan rencana ambisius untuk memasukkan kurikulum wajib militer (wamil) ke dalam pendidikan tingkat SMA di wilayahnya.
Langkah ini bertujuan untuk membentuk karakter siswa melalui pendekatan disiplin militer, sekaligus mengatasi masalah sosial seperti tawuran pelajar dan geng motor.
Kerja Sama dengan TNI dan Polri
Untuk merealisasikan program ini, Dedi Mulyadi menggandeng Komando Daerah Militer (Kodam) III/Siliwangi dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat.
Setiap sekolah akan memiliki pembina dari TNI dan Polri yang bertugas membentuk karakter serta memetakan bakat para siswa, termasuk bagi yang bercita-cita menjadi tentara atau polisi.
Tujuan Pembentukan Karakter dan Pemberdayaan Siswa
Dedi menekankan bahwa program wajib militer ini bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan langkah konkret dalam membina generasi muda agar memiliki jiwa nasionalisme dan tanggung jawab sosial.
Dengan adanya pelatihan ala militer, diharapkan siswa dapat lebih disiplin, tangguh, dan memahami pentingnya menjaga ketertiban serta keamanan di lingkungan mereka.
Tanggapan Positif dari Orang Tua
Beberapa orang tua siswa menyambut baik rencana ini.
Idris Apandi, seorang orang tua siswa SMA di Kota Bandung, menyatakan setuju dengan rencana Dedi terkait penerapan mata pelajaran wajib militer ke siswa SMA yang terlibat tawuran dan geng motor.
Ia berharap teknis pelaksanaan diatur dengan jelas agar tidak mengganggu proses pembelajaran akademik siswa.
Baca Juga: Eksplor Magelang Bersama Skuter Matik Besar New Honda PCX160
Tantangan dan Persiapan
Meskipun mendapat dukungan, pelaksanaan kurikulum wajib militer ini juga menghadapi tantangan.
Beberapa pihak mempertanyakan kesiapan fisik dan mental pelajar dalam mengikuti pelatihan militer.
Selain itu, ada kekhawatiran bahwa pelaksanaan wamil bisa mengganggu proses akademik siswa.
Namun, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa program ini dirancang untuk membentuk karakter siswa sekaligus menggali potensi mereka dalam berbagai bidang.
Langkah Dedi Mulyadi untuk memasukkan kurikulum wajib militer di SMA di Jawa Barat menunjukkan keseriusannya dalam membangun karakter generasi muda.
Dengan kerja sama antara pemerintah daerah, TNI, dan Polri, diharapkan program ini dapat mencetak pemuda yang lebih disiplin, berwawasan kebangsaan, dan siap berkontribusi pada bangsa, sekaligus mengurangi tindakan tawuran yang merugikan. (Anicetus Awur)
Editor : Meitika Candra Lantiva